TRAGEDI DINI HARI | ARSAD CORNER

TRAGEDI DINI HARI

Sabtu, 08 Februari 20250 komentar

 Tragedi Dini Hari

(bagian dari novel berjudul " di Belum Tertemukan" yang sedang proses penulisan 04)


Marahku  yang memuncak  dan mewujud dalam "kata singkat" yang jarang kugunakan telah mengundang diam mu dalam seribu bahasa.  Kamu pun tak mau ambil pusing dengan penjelasan detailku agar kamu bisa mewajarkan khilafku itu. Sempat terfikir diammu itu bentuk penyesalan karena persoalan serupa berulang. Aku menduga kamu merasa malu melakukan kesalahan serupa seolah menggambarkan kecerobohan yang nyata. 

Ironisnya, fakta berikutnya tak menunjukkan kamu sedang auto koreksi sehingga bisa berfikir jernih dalam berkesimpulan apakah sikapku itu emosional tanpa sebab atau akibat tingkahmu yang berulang memancing ketidaksukaanku ke titik yang amat sangat.  Tampaknya, kamu enggan menilai obyektif apakah amarahku itu reaksi atau aksi. 

Andai saja kamu berjiwa besar, pasti bisa menyadari itu akibat aksimu, sehingga kamu lah yang bermohon maaf karena telah membuat hatiku demikian terluka. Ironisnya, kamu memposisikan "reaksi" ku menjadi pokok masalah di alam fikirmu. Akibatnya, substansi masalah pun kabur tanpa sedikitpun terbincangkan apalagi dibahas  secara elegan demi terbangunnya kesepakatan dan komitmen untuk selalu menjaga rasa satu sama lain.

Kamu tersinggung berat dengan caraku bereaksi dan mendiamkanku sebagai pilihan caramu menghadapi situasi ini. Padahal, ini bukan pertama kali kita berselisih faham untuk urusan yang sama, tentang update status WA. Dalam diam mu, kamu tak bereaksi atas puluhan  wa beruntun yang aku kirimkan, ntah itu berisi penjelasan maksud reaksiku, bermohon maaf, mengingatkan makan atau sholat atau istrahat yang cukup. Puncaknya, kamu jengah ketika dalam diammu aku tetap melangsungkan kebiasaanku berkirim WA untuk sekedar mengingatkan makan, solat dan menyemangatimu dalam beraktivitas. 

Ketika aku sedang menunaikan sholat Isya, kamu menelepon aku sehingga tidak terangkat. Mendapati ada tanda “miss call” pada smart phone ku, aku pun berinisiatif langsung menelopon balik. Dengan semangat ku sapa kamu dengan keyakinan “masa diam” mu sudah berakhir dan kamu mulai memasuki fase kenormalan suasana sesudah 3 (tiga) hari membisu. Kamu angkat teleponmu, tetapi yang kudengar adalah kamu sedang berbincang dengan lainnya. Setelah beberapa detik mendengarkan dan mencoba meyakinkan kesimpulanku bahwa kamu sedang meeting. Aku pun berinsiatif tutup telepon, sebab itu kebiasaanmu menginfokan sedang beraktivitas ketika aku telepon. 

Tak lama berselang, kamu menelepon balik. Saat ku angkat, kamu langsung memperdengarkan suara lantang berintonasi marah, " sudah cukup, aku tak mau lagi melanjutkan hubugan ini. cukup kamu untuk sekian kali kasar ke aku. kamu tahu kan kalau aku sudah dikasari?...jadi cukup sudah sampai disini".  Mendapati kalimat itu, aku mencoba menawar amarahmu dengan berkata landai..."kamu ndak bisa liat itu aksi atau reaksi?..bukankah meng-uoload  semacam itu tidak mengkasari dan melukai perasaanku?..". Kamu pun langsung menyamber," bodo...mau aksi atau reaksi..yg pasti kamu dah kasar ke aku dan aku ndak terima. jadi, cukup semuanya". telepon pun langsung kamu sudahi tanpa memberiku kesempatan bicara lagi.

Aku memilih diam dan sengaja tak langsung mencoba meneleponmu balik untuk melanjutkan pembicaraan, karena aku menghindari pertengkaran berkepanjang, apalagi emosi pun bener2 sedang tidak terkendali. Aku lebih memilih untuk menenangkan diri dan memandang hal itu sebagaii kebiasaanmu bila sedang marah atau sedang lelah. Aku pun tak ambil hati dan terjebak baper parah, walau rasa jengkel menghinggapiku. Saat aku sudah bisa lebih tenang, akupun berikirim wa padamu, “Sekarang kamu bisa ya begitu ke aku…tidak bisa memahami kalau amarahku itu bentuk reaksi kecemburuan karena takut kehilangan yang amat sangat… kalau satu kata yang mewakili puncak amarahku itu menyinggung perasaanmu, kamu lupa sekasar apa kalau lagi marah ke aku?..”. Lama menunggu, kamu tak juga merespon. Hingga menjelang dini hari aku mengirimmu wa lagi untuk sekedar izin istrahat duluan.ku akhiri kalimat wa ku dengan mengingatkan untuk selalu “menjaga kesehatan dan love u….”. Saat berkirim WA itu, aku berasumsi kamu masih beraktivitas, apalagi kebiasaanmu memaksimalkan malam untuk mengkoordinasikan ragam aktivitas dan biisnis yang tengah kamu geluti, tidak terkecuali malam minggu.  

Aku berjuang memejamkan mata sejak jam 23.30..namun sampai di 02.45 dini hari tak juga berhasil terlelap karena sibuk memikirkan cara terbaik keluar dari situasi tak nyaman ini. Akhirnya, kuraih smart phone dan berkirim WA ke kamu, "Aku ndak bisa bubuk…Aku minta maaf ya yank…Aku ndak bisa kalau lama diem-diem an seperti ini..marahnya udahan ya yank..please..Aku kangennnnnn". Sesudah terkirim, aku letakkan HP di sebelah kepalaku dan kembali merebahkan badan mencoba terpejam.  Namun tak kunjung berhasil juga. 9 (Sembilan menit) berselang, kamu membalas dengan kalimat singkat dan padat..."maaf..Sy memutuskan utk finish"... Seketika aku ingin merespon, tapi aku memilih menahan diri mengingat kamu sedang emosi tinggi, sehingga khawatir hanya melahirkan perdebatan panjang yang tak berujjung.

Saat azan subuh berkumandang dan membuatku terjaga….aku langsung meraih HP dan langsung berkirim WA padamu  "Yank..dah azan subuh..sholat yook.."... Kudapati hanya centang 1 (satu) di layar HP Ku. Mungkin HP kamu lagi di charge dan atau kamu masih terlelap.  Menjelang pukul 06.00 WIB, Aku ngecek hp lagi dan melihat masih centang 1 (satu).  

Pada pukul 07.00 an, Aku mendapati lingkar hijau di kontakmu pertanda kamu baru saja update status. Seketika dilemma menyelimutiku, antara menekan tombol untuk melihat conten-nya atau membiarkan seperti ku lakukan seharian kemarin. Sejujurnya, Aku trauma dengan content yang pernah dan sering membuatku terluka bila membaca atau menontonnya. Namun, karena Wa yang kukirim menjelang subuh masih berstatus  centang 1 (satu), akupun nekad untuk meliha Update-an Status WA mu itu. Dahiku berkerut mendadak dan emosiku hanpir terpancing saat kudapati isinya sebuah video bersumber dari link sebuah tiktok ber-caption, " yang royal aja kutinggal…..apalagi cuman yang bilang sayang..makannya jangan sampai telat"..

Dalam hati aku bertanya, adakah tragedy dini hari ini akan menambah jumlah peristiwa putus nyambung dalam sejarah perjalanan hubungan kita?..ataukah ini tragedi kali ini  bermakna berakhirnya kisah pertautan bathin dalam arti sesungguhnya?..Aku tak menemukan jawabnya.

Yang jelas, aku belum khatam mempelajari kamu dengan segala setail algoritma mu dalam urusan cinta. Aku belum menemukan cara terbaik untuk menge-nol-kan seluruh bentuk ekspresi emosimu. Aku baru bisa mengendalikan emosi kamu kalau sedang berhadapan dengan partner atau kolega yang menyebalkan atau karena suasana crowded sedang berlangsung dilingkar aktivitasmu. Sejujurnya, aku belum menemukan cara yang jitu dalam mengatasi emosimu bila sedang tertuju padaku.

Saat ini....WA ku yang mengingatkanmu sholat subuh masih centang 1 (satu). Artinya, hampir pasti nomorku sudah kamu "block". Kalau merujuk  kebiasaan lakumu, mungkin kamu akan buka lagi komunikasi saat hatimu sudah membijak atau kamu sedang membutuhkan sesuatu dariku dalam urusan pekerjaan atau perjuangan. Tapi kalau ini benar-benar menjadi sikap permanenmu, Tegas bahwa semua ini akan menjadi kenangan dengan akhir tragis dan menyisakan lara hati luar biasa.


NB:
gambar sebagai illustrasi bersumber dari searching di google





Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved