Tertundakan lagi untuk sekian kali… | ARSAD CORNER

Tertundakan lagi untuk sekian kali…

Kamis, 27 Februari 20250 komentar

Tertundakan lagi untuk sekian kali…

Bagian 04 dari novel berjudul “Penantian Takdir Cinta” yang mulai di susun 


Ada perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan ketika kamu menelepon dan memintaku untuk datang ke kotamu. Nada kamu tegas masih berkesan amarah yang tak kunjung reda. Agenda tunggal yang engkau tawarkan dipertemuan nanti pun hanya satu, “menyelesaikan segala persoalan yang ada”. Usai menerima telepon singkatmu,  ada kecamuk antara gembira, khawatir, sedih dan banyak lagi yang susah dijelaskan. Gembira karena bisa mendengar nada suaramu yang mengobati kangen yang luar biasa. Khawatir karena amarah kamu tak kunjung reda dan tampak begitu dalam dan akud. Seperti katamu, ini marah dan diam mu terpanjang dari deretan memeori putus nyambung di sepanjang kita menjalani hubungan ini. .  

Sejujurnya, rencana keberangkatan menuju ke kotamu esok hari seperti menjemput dua kemungkinan dengan tingkat probabilitas yang sama. Ketika kangen sukses meredam amarah, maka kisah cinta menemukan titik keberlanjutannya. Namun, ketika sebaliknya dimana amarah lebih dominan ketimbang rindu, mungkin segala sesuatunya pasti menjadi berantakan dan tak terukur. 

Pagi ini, habis menunaikan subuh dan membaca Alqur’an, aku bersiap-siap packing pakaian untuk keberangkatn ke kotamu. Aku sengaja membawa pakaian ganti sebagai antisipasi kalau ternyata aku harus nginep di kotamu bila perbincangan kita tak mungkin diselesaikan dalam sehari. Usai sarapan pagi dan dhuha, aku langsung beranjak dari rumah  dengan target menyelesaikan satu agenda lokal dan kemudian ke stasiun kereta untuk menggapai kotamu. 

Alhamdulillah, satu agenda yang kuharapkan bisa cepet selesai benar-benar terwujud. Artinya, aku bisa naik kereta jam 09.00 an sehingga jam 13.00-an sudah bisa bertemu kamu. Aku pun bergegas ke stasiun dengan penuh semangat.  Alhamdulillah, tepat 08.20 Wib aku sudah sampai di stasiun kereta dan kemudian mengabarkanmu lewat WA. Kupastikan pada petugas bahwa tiket masih ada  untuk pemberangkatan jam 09.00 an. Ketika petugas tiket  mengkonfirmasi masih tersedia kursi, aku tak langsung memesan. Aku mengkoordinasikan dulu untuk memastikan tidak ada perubahan agendamu. Ku buka HP dan kudapati WA ku yang mengabarkan sudah di stasiun belum peroleh respon darimu. “Ada kereta jam 09.00-an..gimana….aku jadi berangkat ke kotamu?.”.Tak kunjung ada respon, aku pun mencoba telepon. Hasil yang sama kudapati, tidak di respon. “Mungkin kamu sedang meeting dana tau mulai aktivitas”, ku bangun asumsi demikian di fikiranku. Khawatir kehabisan tiket, kucoba buka aplikasi KAI untuk mencari alternative jam keberangkatan, ku dapati ada kereta jam 14.00-an dan akan sampai dikota mu mejelang maghrib. Ku coba berkirim WA lagi sebagai opsi tambahan bila ternyata agendamu hari ini mendadak padat. Tak di respon juga, ku coba telepon kamu lagi sampai 8 (delapan) kali. Lagi-lagi hasil sama ku dapati, “no respon”. Ku coba menelepon ke nomor kamu yang satunya, kamu angkat namun tak ada suara. Sepertinya sinyalnya kurang mendukung. Aku coba keluar ruangan dan mencoba telepon lagi, namun kamu tak merespon. Tiba-tiba ada WA masuk..”maaff..Hr ini saya full..”. Setelah mencoba menghela nafas sejenak menenangkan diri, kemudian aku menjawab Wa-mu, “ya udah…aku balik lagi ke rumah....met aktivitas”. Karena kamu tak merespon lagi, aku pun beranjak meninggalkan stasiun menuju parkiran dengan langkah gontai tak bertenaga. 

Sejujurnya ini benar-benar menguji kesabaran dan kebijaksanaanku yang amat sangat, sebab kamu lah yang memintaku untuk datang ke kotamu. Aku masih ingat kalimat singkatmu, di telepon, " kamis...saya kosong...saya tunggu kamu di sini.." Segala persiapan dan pengkondisian sudah kulakukan sedemikian rupa, tiba-tiba kamu bilang ,“maaf…full agenda”. Kejadian semacam ini terulang lagi untuk kesekian kali, padahal kamu tahu betapa sulitnya aku mengkondisikan untuk bisa peroleh izin ke luar kota.

Tapi sudahlah…aku sangat lelah dan sebaiknya memilih diam saja. Aku lelah dengan perbedaan cara dalam merawat semua ini. Aku lelah mencari cara terbaik agar  kita bisa nyaman mendiskuiskan setiap kali perbedaan mengedepan. Aku juga lelah menjelaskan maksud baik amarahku. Bukannya aku menyerah, hanya butuh diam sejenak agar lelah ini menemukan kembali titik kuatnya untuk kembali berusaha.

Ku coba kendalikan diri dan kutawar kekecewaan yang amat sangat ini dengan banyak beristighfar, sholawat dan berzikir. “Pasti Tuhan punya maksud baik..pasti Tuhan punya rencana indah..pasti Tuhan akan menyajikan hikmah dari kejadian yang berulang entah sudah berapa kali”, gumamku dalam hati sambil memacu kendaraan menuju ke rumah. Sesampai di rumah, aku berusaha mengalihkan fikiran dengan menyibukkan diri pada pekerjaan rumah, sambil terus mengumandangkan istighfar, sholawat dan zikir. 

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved