MULAI TAK SEPERTI BIASA
(bagian dari novel berjudul " di Belum Tertemukan" yang sedang proses penulisan 05)
Mulai dari kemarin ini, aku menghentikan kebiasaanku untuk mengingatkanmu soal sholat, makan tepat waktu, istarahat yang cukup dan menyemangati dalam menjalankan aktivitasmu yang biasanya demikian padat. Aku bekeyakinan suara azan pasti menggerakkanmu untuk segera bergegas menunaikannya. Aku pun tak lagi mengemis kesempatan atas nama heroisme, kesungguhann dan ketulusan cinta, karena mengulangi hal sama berujung percuma. Akupun tak mau menjebakkan lagi dalam dilema apakah melihat update status WA mu atau tidak, sebab aku pun tak mau menjadi toxic dalam caramu mendapatkan kenyamanan hidup. Aku pun tak menyambangi ke kota mu untuk meng-clear-kan segala sesuatunya secara tatap muka.
Aku memilih diam..menyepi..dan menata emosi diri demi terbangunnya kebijaksanaan2 pemaknaan atas semua hal yang telah kau tetapkan atas hubungan ini. Aku tak tergoda mencibir apapun yang telah membuatku terpinggirkan, tetapi mencari hikmah atas perbedaan2 fikir dan tafsir sikap atas demikian banyak perbedaan yang kita lalui bersama. Diam lafalku mewujud dalam menulis, menuliskan rindu yang demikian hebat dan gejolak bathin yang begitu. Lewat menumpahkan segala yang membenak, berharap membantuku bisa berdamai dengan diriku sendiri dan peroleh ketenangan untuk mengisi hari-hariku tanpamu.
Sikapku memang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Aku pun aku tak begitu yakin kamu akan seperti biasanya, kembali secara tiba-tiba. “Jeda waktu” yang pernah hadir telah memberi bukti ketangguhanmu berjalan sendiri tanpaku, sehinggga keyakinanku berkata kali ini kamu benar-benar siap saat mengatakan semua yang ada diantara kita “finish”. Aku tak berfokus menilai sikapmu itu, tetapi konsentrasi membenahi caraku memperlakukan diriku sendiri agar bisa dikegembiraan yang kokoh tanpa tergantung siapapun, termasuk kehadiranmu.
Aku tidak telah dan atau sedang marah padamu. Aku hanya berusaha menghormati apa yang telah engkau putuskan dan berdoa semoga kamu bahagia dengan pilihan sikapmu. Perjalanan panjang dan dinamika beragam yang kita lalui ini sudah begitu banyak memberikan pelajaran. Fase kita bukan lagi tentang “apakah aku dan kamu serius” dan atau “apakah aku dan kamu saling setia”, tetapi fase menguatkan substansi dan arah dari keterikatan hati kita. Namun, ketika kamu lelah atau kehilangan keyakinan tentang hari esok bersamaku, inilah saat yang tepat kamu berkeputusan begitu.
Aku akan melanjutkan langkah sendirian dengan segenap realitasku. Aku akan berjuang menata hari demi hari untuk keadaan yang lebih menentramkan dan lebih bernilai harapan. Andai pun suatu waktu ternyata engkau kembali lagi, setidaknya aku tidak dalam kondisi sedang menunggu dan sangat berharap. Saat itu benar-benar terjadi, aku akan landai saja dan mempersilahkan ketika engkau bermaksud melanjutkan kisah ini lagi. Apakah aku telah kehilangan rasa dan respek terhadapmu?. Bukan….aku hanya berusaha menjalaninya dengan cara yang berbeda namun bermakna sama, yaitu “mencintai dan selalu menjagamu”.
NB :
gambar dalam tulisan ini sebagai illustrasi dan diambil dari hasil searching di google
Posting Komentar
.