Menghadirkanmu di Ketiadaan | ARSAD CORNER

Menghadirkanmu di Ketiadaan

Selasa, 11 Februari 20250 komentar

Menghadirkanmu di Ketiadaan

(bagian 08 dari novel berjudul " di Belum Tertemukan" yang sedang proses penulisan)


Menghadirkanmu dalam ketiadaan seolah menjadi mesin jawab atas deretan tanyaku tentang kabarmu, aktivitasmu, udah makan atau belom, sholatnya dah disegerakan atau belom.  Cara itu sudah lebih dari cukup untuk menemani dan menyemangati langkahku menjalani dan menelusuri ruang2 yang berpihak pada asa hidup. 

Aku memang tak pernah berbagi kegusaran karena tak mau menambah beban fikiranmu. Toh, itu bukan caramu menandaskan keberadaan di lingkar hidupku.  Kamu selalu punya cara sendiri yang random dan tak tertebak.  Lagian, kelelakianku mengajarkan dalam mencapai sesuatu harus sendiri walau nyawa harus dipertaruhkan demi keterwujudan.”Niat ibadah” sebagai dasar dalam setiap langkah meyakinkanku penjagaan-Nya atas segala yang kufikirkan dan kulakukan. Aku adalah lelaki yang tak mengenal kata mengeluh, karena itu hanya menyurutkan energiku. aku tak pernah tergoda menyerah, karena itu hanya menge-nol-kan asa. Bagiku, lelaki harus bisa menyembunyikan kepedihannya sendiri sehingga secara kasat mata akan terlihat baik-baik saja. Dengan begitu, kamu merasa punya tempat untuk bersandar atau menumpahkan segala yang ingin engkau utarakan padaku.

Tak ku pungkiri lelah itu  hadir  saat energy dan semangatku hampir menyentuh ambang batas kokohnya, namun sengaja tak kupilih bersandar padamu untuk membarukan atau memperbaharui kemampuan untuk melanjutkan langkah. Bukan aku tak menganggap kamu ada, tetapi aku memilih men-dialogkan segala pertarungan hidup dan kegetiran dengan-Nya di atas sajadah dan atau di tengah langkah gontai setengah bertenaga yang memberi ruang luas untuk mengatakan segala sesuatu pada-Nya . Saat itu, aku jujur pada Tuhan-ku tentang apa yang kufikir,kurasa dan kualami, tak terkecuali tentang ada dan dinamika serta pengaruh hadirmu dalam hidupku. 

Pada-Nya, aku tak takut di bilang manja, peminta, atau di bilang lemah karena taknhenti bermohon, karena memang Dia lah yang Maha segalanya. Pada-Nya, aku tak malu menghamba dengan merendahkan diriku serendah-rendahnya, karena Dia Maha mengetahui apa yang ku nyatakan dan atau ku sembunyikan. Aku ber-ekspresi tanpa batas dan Dia tak akan pernah menawar, menyela atau membantah langsung. Mungkin Dia hanya tersenyum, kemudian mengabulkannya atau menundakannya. Apapun itu, kuyakini ketetapan-Nya sebagai yang kubutuhkan dan yang terbaik bagi hidupku. Kala senyumku ditundakan, Dia sedang memintaku untik bersabar dan berpesan berusaha lebih keras lagi. Kala aku dibuat terkaget dengan perkenan-Nya, ku fahami Dia sedang menunjukkan ada-Nya hingga mendorongku untuk selalu bersyukur dan melanjutkan langkah.

Aku tak sedang membandingkan kamu dan Dia, karena itu sama saja terjebak pada ke-syirikan yang paling bodoh. Aku hanya belajar memposisikan kita pada tempat dan porsi yang seharusnya. Abdiku pada cinta mencerminkan kesungguhanku men-selaraskan dengan do’a yang selalu terpanjat pada-Nya. Aku pun tak mau Dia hanya tertawa atas untaian kalimatku bernada harap tentangmu. Mungkin hari ini kita terpisah oleh tempat tapi kupastikan selalu terhubung dengan do’a. Kuwakilkan pada Tuhan untuk menghadirkan rasa apa yang memang selayaknya menguat dalam hatimu. Ku mohonkan juga pada Tuhan, bagian mana dari cara fikir dan rasaku ini yang harus dikesampingkan, agar aku diketenangan yang sama seperti engkau tenang dengan segala apa yang engkau tetapkan untuk diperjuangkan.


NB : 

gambar dalam tulisan ini sebagai illustrasi dan diambil dari hasil searching di google



Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved