Men-dudukkan di Posisi Seharusnya | ARSAD CORNER

Men-dudukkan di Posisi Seharusnya

Selasa, 11 Februari 20250 komentar

Men-dudukkan di Posisi Seharusnya

(bagian 07 dari novel berjudul " di Belum Tertemukan" yang sedang proses penulisan)


Dalam kesadaran ber-Tuhan yang tengah menggelayuti qolbuku, terbersit simpul berjaraknya komunikasi karena kepekatan diammu bentuk Tuhan mendukung impian kita sesungguhnya.  Niat ibadah menjadi landasan sejak pertama kali kita memulai kejuangan ini. Kita jadikan “perolehan pahala dan kemuliaan dihadapan Sang Pencipta” sebagai penyemangat untuk selalu ber-energi dan tak berhenti melangkah.


Awalnya, kita bersepakat tak akan pernah men-defenisikan tentang akhir dan membiarkan semua berlangsung alamiah seiring berjalannya waktu. Dinamika perjalanan pun membangunkan keyakinan bersama untuk bermimpi menjadikan pertautan hati ini terikat simpul sakral bercita sebuah keluarga SAMARA. 

Cita itu kemudian semakin menyemangati dan meng-energi kita untuk membangun bukti kesungguhan hingga peroleh kepantasan di restui Sang Pencipta.  Walau berjarak secara tempat, kita terus mendorong ketertautan ini ke dalam bentuk aksi menyemangati dan saling support agar menjadi pribadi yang lebih mampu  memproduksi nilai tambah dan berdampak luas bagi kebaikan banyak orang. Kombinasi olah fikir dan energy yang kita lakukan menemukan titik efektivitasnya. Capaian demi capaian mulai memasuki titik makna, yang tidak saja sudah mendatangkan senyummu untuk hari ini, tetapi juga memberi gambaran potret bahagia di mendatang. 

Di kepekatan diam mu dan di ketenangan responku seolah membawa kita pada ruang komtemplasi, dimana masing-masing dari kita sedang me-recovery segenap lelah, menata pemaknaan dan merancang langkah bernilai asa diberikutnya. Kita menge-nol-kan ego dan meng hadirkan Tuhan dalam akal,fikir dan bathin kita, sehingga mampu  lebih jernih melihat perjalanan panjang yang sudah kita lalui bersama. Kita urai jejak dinamika untuk mendapati hikmah dari setiapnya. Mungkin, mem-bijak menjadi wujud hasil perenungan ini yang membawa hubungan bathin kita pada kualitas yang lebih pantas untuk diberkahi Sang Ilahi. 

Kita mungkin belum mampu menempatkan “hari ini” ke titik yang kita mau, tetapi bisa jadi inilah cara Sang Pencipta mendudukan kita di posisi yang seharusnya. Ketika kita ikhlas menerimanya sebagai ketetapan, kita akan bertemu hikmah yang tidak saja membuat jiwa kita merasa tentram, tetapi juga menuntun langkah kita menempuh arah yang semakin mendekatkan kita pada cita agung yang demikian sakralnya. Namun, ketika ego kita melibat dan menjadikannya sebagai penentu, bisa jadi kita terperosok ke dalam jurang yang tidak saja menyebabkan luka, tetapi semakin menjauhkan jarak ke titik akhir yang kita impikan bersama. 

Meng-hikmah kupilih ketimbang menggerutu. Me-makna kupilih ketimbang berfokus pada pembacaan yang melipatgandakan lelah. Aku dengan segenap lemahku memilih bersandar pada do’a dan berpasrah pada ketetapan-Nya. Ku do’akan kamu dengan segala cara fikir dan sikapmu bertemu akan di titik yang sama. 

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved