“Jeda Waktu” Yang Menyempitkan | ARSAD CORNER

“Jeda Waktu” Yang Menyempitkan

Minggu, 09 Februari 20250 komentar

 “Jeda Waktu” Yang Menyempitkan

(bagian dari novel berjudul " di Belum Tertemukan" yang sedang proses penulisan 01)


"jeda waktu" yang telah membuat kita tak bisa berkomunikasi beberapa waktu
kemarin perlahan membawa hikmah tertemukannya ragam pesan di dalamnya. Pesan itu satu persatu mengedepan hingga membentuk simpul yang menandaskanmu sebagai insan bertalenta luar biasa dan berada diketinggian.

"kamu berhasil melakukan lompatan capaian" yang membawa pada titik pengaruh yang semakin meluas seperti saat ini. itu melebihi dugaanku dan bahkan amazing. itulah pesan pertama yang kutangkap dari apa yang kusaksikan dengan realitasmu  hari ini yang begitu keren.

"terbangunnya titik sadarku" bahwa batas potensi  mampuku memandumu  adalah smpai dimana "jeda waktu" mulai harus bermula. karena apa yang kamu tekuni hari ini tak mampu ku cerna lagi sehingga mereduksi percaya diriku untuk sekedar bersaran apalagi memberi nasehat seperti sebelumnya. Kemampuanku sebagai pemandu sudah mencapai ambang batas dan tak terbantahkan juga kamu adalah murid yang begitu cerdas. 

Aku bangga dikehebatanmu hari ini, setidaknya bersyukur pernah berkesempatan menemanimu meniti sebagian dari deretan anak tangga itu satu per satu.  Saat keadaan memaksaku berhenti, kamu pun tetap berupaya melanjutkan walau tertatih pada awalnya namun begitu indah dipenghujungnya.Itu kufahami sebagai penanda kamu semakin kenal dirimu sendiri dan semakin tajam dalam mengoptimalkan potensi dan bakat yang melekat. Hasilnya pun luar biasa dimana peluangmu semakin terbuka untuk meluaskan makna diri lewat sentuhan tangan dinginmu dalam mengukir karya2 berdampak baik bagi banyak orang. Aku pun mendapati percaya dirimu semakin kerenseiring bertambahnya jam terbang, pengalaman dan semakin luasnya hubungan dan pergaulan.


Mendapati kamu dengan segenap realitasmu, saat "jeda waktu" terbuka ntah untuk berapa lama, aku pun lebih banyak mendengar dan sesekali menyela dengan pujian yang sekiranya melipatgandakan motivasimu untuk terus melangkah. Aku tak berani lagi menyampaikan analisa kritisku, karena ruang juangnya sudah demikian luas dan lebih banyak variabel yang terlibat  yang muasal sejarah kepesertaannya tak ku kuerahui.  Namun, aku menilai orkestrasimu demikian ciamik sehingga berhasil membentuk irama yang enak untuk didengar dan asik untuk disaksikan. 

Dengan segenap kesibukanmu hari ini, fikiranmu begitu terkuras, fokusmu benar-benar total dan energimu tersedot habis, namun aku menilai kamu sangat menikmati dinamikanya. Aku memilih peran sebagai pen-do’a  untuk kesuksesanmu   menggapai titik mimpu sesungguhnya. 

Menariknya adalah menyempitnya ruang “kita”. Saling menyambangi yang sudah direncanakan tak kunjung bisa diwujudkan. Aku memilih menyesuaikan situasimu demi jalannya agenda demi agenda yang memang harus kamu jalani satu demi satu. Gelik rasanya ketika harus berbalik arah dari stasiun di menjelang zuhur karena pembatalan keberangkatanku menuju ke kotamu. Aku tak kunjung dapat kepastian apakah agendamu yang lagi semrawut sudah terkondisikan atau belum. Aku pun mengabarkan padamu saat pembatalan sepihak ku lakukan karena tak mau kamu merasa terdesak olehku. lucunya lagi, jam 14.00-an kamu bertanya keretaku udah sampai dimana?. tanya itu menandakan kamu tak mengikuti detail konfirmasi yang kulayangkan lewat WA. Padahal, berjuang peroleh izin dan pengkondisian keberangkatan menuju ke kotamu harus melalui proses yang complicated. Ironisnya lagi, ide pengurusan izin itu bermula dari saran kamu dikarenakan sedak tidak memungkinkan merangsek ke kotaku. Atas pembatalan itu, aku bilang tak apa dan mensarankan kamu untuk tetap fokus memberesin kerjaan, toh masih ada lain waktu untuk kita. Akupun tak lupa mengingatkanmu agar relax dan enjoy mejalani setiap  dinamikanya.

Hari ini, kamu dengan segala kesibukanmu benar-benar menjadi dirimu. Tentang “kita” biarlah seriring berjalannya waktu akan mendefensikan porsi dan juga arahnya, karena “tentang kita” sedang berposisii jalan terjal menuju ke-kita-an. Nada pesimisme mu terkesan kuat dari caramu mensikapi situasiku. Bagi kamu yang tengah akrab dengan berbagai agenda yang berkejaran, ke-kita-an bukan prioritas. Kamu sudah kehilangan gairah mengikuti format komunikasi berbasis demarkasi antara kerjaan dan hubungan. Kamu telah menempatkan hubungan sebagai supporting bagi kerjaan, karena membangun kecerahan masa depan sedang menjadi prioritasmu. Di sisi lain, semakin sukses maka semakin meluas pula kebermanfaatan diri pada banyak orang. 

Untuk itu, aku tak memposisikan kesibukanmu sebagai biang keladi rasa keterpinggiran ini. Aku pun tak tergoda menyimpulkan aku bukan prioritasmu lagi seperti sebelum-sebelumnya, tetapi melihat ini sebagai peningkatan kemandirianmu dalam berkarya. 

Bahkan, Aku memahami semua ini bagian bukti kasih sayang Tuhan dengan menyibukkan kamu dan juga aku pada hal-hal yang lebih produktif. Hal itu harus kita syukuri sebab hubungan hati yang tertaut diantara kita berdampak pada peningkatan dan peluasan kemampuan dalam memproduksi nilai-nilai kebaikan.

Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved