SURAT TERBUKA KELUARGA BESAR dr. SOEKO MARSETIYO, KORBAN KERUSUHAN DI WAMENA, PAPUA UNTUK PARA "PENG-KHILAF” | ARSAD CORNER

SURAT TERBUKA KELUARGA BESAR dr. SOEKO MARSETIYO, KORBAN KERUSUHAN DI WAMENA, PAPUA UNTUK PARA "PENG-KHILAF”

Sabtu, 28 September 20191komentar


SURAT TERBUKA KELUARGA BESAR dr. SOEKO MARSETIYO, KORBAN KERUSUHAN DI WAMENA. PAPUA   
UNTUK  PARA "PENG-KHILAF”  



Saudara-saudaraku sebangsa dan se-tanah air khususnya di Wamena, Papua..

Sore ini, 27 September 2019, tepatnya di Desa Jambon, Yogyakarta,  keluarga besar kami berdiri terpaku disamping peti jenazah buah karya kekhilafan dan emosi tak terkendali dari beberapa orang kurang bertanggungjawab yang telah mengalami kehilangan akal sehat dan rasa kemanusiaan-nya. 

Kami sama sekali tidak kenal kalian secara fisik, tetapi kalian adalah tetap saudara karena kita semua terhimpun dan terpersatukan dalam satu kata heroik “Indonesia”. Namun, kekejaman yang kalian
sajikan telah memisahkan ruh dengan jasad orang yang sangat kami hormati dan sayangi, dr. Soeko Marsetyo. Kami sangat berduka dan sedang berusaha sekuat tenaga meng-kerangkeng amarah dan mengubur dalam rasa kesedihan mendalam bercampur kecewa yang begitu kuat.



Sore ini, kaki terasa begitu lemas dan tak bertenaga untuk  tetap berdiri saat  sesi penyerahan peti jenazah berisi  jasad orang yang begitu kami cintai berlangsung di area Cargo, Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta. Kami hanya bisa tertunduk dan terpaku diam, membiarkan air mata belinang dan tangis pecah sebagai ekspresi kesedihan yang tak terlukiskan. Kami hanya bisa memeluk peti yang terkunci dan terbungkus rapi.



Semua dari  kami mencoba   menerima kenyataan sambil membangun bijak atas ribuan tanya tak berjawab yang mem-benak. Dalam diam di tengah ramainya pen-takziyah, kami berupaya keras menguatkan diri sambil mencoba mengingat memory pertemuan-pertemuan sebelumnya, saat-saat terakhir bertegur sapa dan sikap-sikap almarhum yang abai dikesadaran kami sebagai pertanda kepergiannya untuk selama-lamanya.



Kini..kami dan segenap pen-takziyah yang hadir mengantar almarhum ke per-istarahatan terakhirnya. Hati kami demikian tersayat saat tangis pecah tak terbendung menyertai proses penimbunanan petih jenazah pada liang lahat.   Lagi-lagi kami berusaha kuat dan tegar serta  membangun ke-ikhlasan atas kepergiannya. Kami berusaha menerima peristiwa ini sebagai sebuah kenyataan dan ketetapan Tuhan yang terbaik untuknya.



Disaat bersamaan, segenap anggota keluarga kami juga harus  menyemangati anak dan istri almarhum yang tentu merasa kehilangan ter-amat sangat. Kami hanya bisa berpelukan dan saling menguatkan. Kami mencoba menghibur hati dan membangunkan keyakinan bahwa mereka tidak pernah sendiri dan kami akan selalu ada untuk mereka. Walau kami tidak mungkin memerankan ayah sebagaimana almarhum lakukan, setidaknya terpastikan mereka tidak merasa kesepian dalam menghadapi suasana yang sangat tidak mudah ini. Kami pun menyuarakan semangat pada puteri sulungnya yang pasti tidak berkesempatan menunjukkan kebanggaan pada sang ayah tercinta atas prestasinya sebagai calon wisudawati fakultas kedokteran dengan  predikat cumlaude. Kami menguatkannya untuk tetap tegar dan membangunkan semangat untuk terus berjuang walau sang ayah pasti tak hadir di prosesi wisuda  nanti untuk menyaksikan hasil kepatuhannya kepada sang ayah dan buah kesungguhannya dalam menuntut ilmu agar menjadi manusia berkualitas dan berguna.



Saudara-saudaraku para peng-khilaf…kami dan segenap keluarga besar menyadari sepenuhnya, amarah tidak bisa mengembalikan nyawa. Dendam hanya akan memelihara kebencian yang menjebakkan pada penyakit hati berkepanjangan. Memaki tidak pernah bisa mengubah kenyataan dan hal itu hanya menandaskan kami sebagai insan yang seolah tak percaya dan tak bisa menerima takdir Tuhan.  Oleh karena itu, bantu-lah kami dengan do’a saat kalian kembali  berkomunikasi akrab dengan Tuhan agar keikhlasan dan kerelaan hadir dan menentramkan hari-hari kami berikutnya. Panjatkanlah  pada-Nya agar kebijaksanaan hadir di hati dan fikiran kami sebagai bekal menjalani hari-hari berikutnya. Sungguh berada di situasi tidak wajar semacam ini sangat tidak mudah. Namun, hidup harus terus berlanjut dan semoga waktu tidak menyisakan kenangan luka berkepanjangan.     
       

Pinta kami, imajinasikan-lah sesaat ketika kalian harus kehilangan orang-orang yang sangat dicintai dan begitu bermakna dalam hidup kalian. Kami tidak sedang ingin membawa kalian pada situasi dan merasakan apa yang kami alami dan rasakan saat ini. Kami hanya ingin berpesan untuk men-cukupkan  segala kekhilafan yang menyesakkan dada dan menyisakan kesedihan mendalam. Cukuplah kami yang berjuang meng-kungkung emosi dan meng-kerangkeng amarah.  Jangan ada lagi kesedihan serupa akibat tindakan yang membabi buta dan tidak berperikemanusiaan. Bayangkanlah betapa sulitnya menjelaskan pada seorang anak kecil saat memanggil dan mencari ayahnya dimana karena rindu.



Apapun hal dan misi yang melatarbelakangi tindakan khilaf kalian, menghadirkan amarah dan kepiluan adalah tindakan yang tidak bisa dibenarkan untuk alasan apapun.  Menghilangkan nyawa orang lain sungguh jauh dari semangat kemanusiaan, persaudaraan, persatuan dan tidak dibenarkan oleh agama manapun. Kita perlu menjaga kebijaksanaan dikebergaman dan senantiasa bergandengan tangan dalam semangat kekeluargaan yang saling menguatkan. 


Khusus kepada masyarakat di pedalaman Kabupaten Tolikora tempat almarhum selama ini mengabdi sebagai seorang dokter, kami ucapkan terima kasih telah menjadi bagian dari hidup almarhum. Semoga kalian berkenan memberi maaf bila terdapat kesalahan almarhum selama berinteraksi. Kami juga mohonkan perkenan untuk mendo'akan almarhum ditempatkan Tuhan di sisi yang mulia.     


Saudaraku Para Pengkhilaf…walau begitu susah untuk melakukannya, dalam pilu menyayat hati yang tengah berkecamuk hebat, kami tetap ber-do’a untuk kebaikan kalian agar tidak terdengar lagi tangis kesedihan karena kehilangan dan tidak ada lagi korban berikutnya yang mendatangkan kemirisan dan kesedihan berkepanjangan.


Sebagai penghujung, kami mengucapkan apresiasi tinggi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Republik Indonesia, Pemerintah Daerah Papua, TNI-POLRI dan segenap lapisan masyarakat yang sudah ikhlas berupaya membantu dan mem-fasilitasi pengurusan dan pengantaran jenazah dari Wamena ke tempat peristrahatan terakhir almarhum di makam keluarga, di Desa Pejambon, Sleman,Yogyakarta.

Kami juga menyampaikan terima kasih kepada segenap pihak yang sudah bersimpati dan memberikan perhatian serta ikut memberikan penghormatan terakhir. Semoga segala kebaikan yang telah bapak/ibu/sdr/i berikan mendapat balasan dari Allah SWT. Aamiin




Yogyakarta, 27 September 2019

Salam Persaudaraan untuk Masyarakat Papua

Salam Damai Indonesia-ku


link berita:
video prosesi  pemakaman klik disini  
berita seputar peristiwa :  
                         klik disini
                         klik disini

Share this article :

+ komentar + 1 komentar

3 Oktober 2019 pukul 20.24

Selamat jalan saudaraku, dr. Soeko Marsetiyo

15 tahun Kau jalani hidup di tempat yg jauh dan terpencil. Jauh dari kampung halamanmu. Meninggalkan org2 yg Kau cintai dan mencintaimu.

Kau rela menghabiskan sebagian umurmu di tempat yg tak nyaman, rawan konflik. Pilihan yg bahkan tak pernah dibayangkan oleh kebanyakan org lain, kecuali oleh penduduk asli setempat.

Kami tau. Itu semua Kau lakukan bukan atas dasar mengejar harta atau gemerlap dunia. Tp krn rasa kepedulianmu yg besar terhadap kemanusiaan.

Dan...bakti tulusmu itulah yg akan jd kendaraan yg akan mengantarkanmu ke surga, wahai syuhada..

Aamiin ya Rabb

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved