Tuhan, Kesetiakawanan
dan Berbelanja di Toko Tetangga

Pagi Pak..sapaku sambil menyebutkan
barang yang kubutuhkan. Selanjutnya, sambil menyampaikan permohonan maaf karena
tidak membawa uang pas, kuberikan selembar pecahan Rp 100.000,oo pada sang
pemilik toko. “waduh….sebentar ya mas, saya tukar uangnya dulu”, ujarnya sambil
mempersilahkanku duduk di kursi yang dia sediakan. Beliaupun langsung
menyalakan sepeda motornya dan tancap gas. Sepertinya beliau menukar uang agar
bisa memberikan kembalian pas padaku. “Indahnya berbelanja di toko tetangga”,
gumamku dalam hati sambil buka HP mengecek massage yang masuk.
10 (sepuluh) menit berlalu, sang
pemilik warung tidak juga muncul. Namun, semangat ber-tetangga membangunkan
maklum dan menjauhkan dari perasaan jengkel. Ku pilih menikmati “masa tunggu”
ini dan sekaligus meresapi makna ber-tetangga sesungguhnya. Alhamdulillah,
akhirnya beliau datang juga dan sesaat kemudian aku berpamitan untuk
melanjutkan perjalanan.
Sesudah menancap gas, teringat
rambut sudah mulai panjang dan kriwil. Rasanya udah waktunya dirapikan. Apakah
ke salon ataukah ke tempat cukur rambut yang biasa?. 2 (dua) pilihan ini
berputar di kepalaku sambil menunggu traffic
light berubah hijau. Seketika ter-ide untuk ke tempat cukur rambut saja.Tempat
cukur rambut memang tidak senyaman salon, namun menawarkan keramahan lokalitas
dengan dialek khas penuh ketulusan.
Ada keunikan di tempat cukur rambut
ini dimana pelanggan tidak bisa memilih tukang cukurnya karena menggunakan
system bergiliran. System ini mengusung semangat berbagi kesempatan dalam urusan
rezeki. Mereka tidak bersaing satu sama lain, tetapi memilih
bekerjasama dan saling mendo’a kan untuk kesuksesan bersama. Mereka menyambut setiap pelanggan yang datang
dengan penuh keramahan dan kemudian mempersilahkan temennya yang kebagian
giliran untuk melayani. Ini system kekeluargaan yang sangat kental
kesetiakawanan. Mereka memilki keyakinan tinggi bahwa setiap orang pasti
diberi Tuhan rezeki sepanjang ikhlas dalam berusaha.
Sayangnya, saat petugas cukur beraksi di rambutku, ter-lupa menanyakan
bagaimana seandainya kalau pelanggan yang datang hari itu hanya 2 (dua) orang
sementara mereka berjumlah 4 (empat) orang. Apakah mereka berbagi rezeki
ataukah mengikhlaskan bahwa hari itu meng-ikhlaskan temennya yang memperoleh
rejeki?. Satu hal yang pasti, sampai
saat ini mereka masih eksis. Di sisi lain, mereka juga mengajarkan tentang
semangat kekeluargaan dan
kesetiakawanan, yang akhir-akhir ini banyak terkikis oleh derasnya virus
egoisme berikut penularannya yang demikian massif.
Posting Komentar
.