PERMOHONAN MAAF
Keterlambatan saya benar-benar diluar dugaan, start jam 12.45 dari Purwokerto, ternyata sampai lokasi jam 10.35, dikarenakan dijalan begitu padat musim liburan, hujan dan banjir di beberapa ruas jalan.
Sekali lagi saya minta maaf atas situasi di luar kemampuan saya. Semoga kawan-kawan UPI terus mengembangkan karya melalui penciptaan kader-kader penerus perjuangan KOPMA. Terimaksih atas perhatian dan kepercayaannya. Semoga diwaktu lain, Allah akan memberi kesempatan kita untuk bertemu dan berdiskusi kembali. MAtur Thanks.
Hidup bersama tidaklah mudah, sebab setiap orang dimungkinkan berbeda dalam
pemahaman dan pemaknaan atas sesuatu. Tetapi, di proses penyatuan itulah
terbentuk spirit dan tumbuhnya jiwa kolektivitas. Kesabaran berproses,
kebesaran jiwa untuk melihat setiap orang terlahir membawa potensi,
keikhlasan untuk saling asah, saling asih dan saling asuh, komitmen untuk
saling membantu dan gotong royong, konsistensi pada nilai-nilai luhur kerjasama
merupakan beberapa prasyarat untuk membentuk dan sekaligus menjaga
karya-karya milik bersama.
B. Kopma dan kepantasan ber-asa
Kopma yang berpenghuni mayoritas mahasiswa/i sesungguhnya memiliki potensi besar untuk berkembang. Banyak alasan yang mendukung untuk kesimpulan itu, antara lain; (i) mahasiswa/i mayoritas adalah usia muda yang energik, sehingga berpeluang tinggi melakukan hal-hal besar; (ii) kopma di huni orang-orang istimewa (baca: memiliki kadar intelektual tinggi), karena faktanya tak banyak yang berkesempatan berkuliah di universitas (lebih kurang hanya 20 prosen dari jumlah penduduk Indonesia); (iii) berada di lingkungan universitas yang memiliki tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi sebagai agen perubahan, sehingga berpeluang mendapat daya dukung tinggi atas ragam gagasan yang akan dikembangkan; (iv) mahasiswa memiliki posisi tawar strategis dalam menjalin komunikasi dengan pihak eksekutif, legislatif, maupun institusi-institusi non goverment, sehingga hal ini memberi peluang besar mengembangkan networking yang luas.
Pembacaan semacam itu menegaskan bahwa kopma memiliki posisi strategis
untuk berkembang. Kalau kemudian pada
faktanya Kopma belum mencapai titik idelanya, maka hal
itu mungkin disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
- Konsistensi. Membangun
karya men-syaratkan konsistensi keyakinan, semangat dan tindakan. Disatu
sisi kopma dihuni oleh orang–orang muda
potensial dan berenergi serta talenta (bakat) yang luar
biasa, tetapi pada tingkat usia mayoritas anggota Kopma (usia 18 tahun
sampai dengan usia 23 tahun) merupakan usia yang sering meledak-ledak
dengan gagasan, sehingga sering kurang memiliki kesabaran berproses. Seringkali
satu ide belum kelar proses realisasinya sudah tergoda mencoba Ide-ide
baru yang terkadang tidak memiliki relevansi dengan ide sebelumnya (yang
sudah dan atau sedang dijalankan). Inilah muasal in-konsistensi yang berakibat perjuangan sering
kembali ke titik nol kembali.
- Kecepatan. Beban study (yang sering dipersepsikan sebagai hal
utama) sering dijadikan sebagai pembenar untuk menunda-nunda hal-hal lain
di luar urusan study, termasuk urusan organisasi. Akibatnya, kopma yang
mengedepankan pengambilan keputusan kolektif sering harus
menunda pengambilan keputusan karena alasan teknis berupa sulitnya
mengumpulkan para pengurus Kopma. Akibatnya, keputusan yang memerlukan
kecepatan waktu tak bisa dilakukan dan peluang menjadi sering hilang
begitu saja. Kalau mau jujur, sesungguhnya 24 (dua pluluh empat jam) dalam
sehari tidak digunakan sepenuhnya untuk kepentingan study. Disisi lain,
ketika berorganisasi (baca: Kopma) difahami sebagai bagian dari study (dalam arti saling melengkapi), maka
berorganisasi akan difahami sebagai cara mengalihkan waktu
bermain ke bentuk aktivitas yang lebih relevan dengan pembentukan
kapasitas diri dan juga masa depan. Kalau pemahamanannya demikian, maka
sesungguhnya tidak ada alasan bagi seorang aktivis memiliki IP (Indeks
Prestasi) akademik rendah dan juga tidak ada pembenar Kopma untuk tidak
maju dalam arti seluas-luasnya.
C. Sesaat Menilik konsepsi koperasi
Koperasi sesungguhnya tidak bebas nilai, artinya dalam kesehariannya koperasi terikat pada defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang merupakan identitas yang berfungsi sebagai pembeda nyata dengan organisasi lainnya dan sekaligus sebagai sumber keunggulan koperasi itu sendiri.
Koperasi sesungguhnya tidak bebas nilai, artinya dalam kesehariannya koperasi terikat pada defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang merupakan identitas yang berfungsi sebagai pembeda nyata dengan organisasi lainnya dan sekaligus sebagai sumber keunggulan koperasi itu sendiri.
Untuk pengetahuan bersama, Pada tahun 1995, tepatnya 23 september, induk
koperasi dunia (ICA/International Cooperative Alliance) berkumpul di
Manchester, Inggris dan menghasilkan satu kesepakatan yang kemudian dikenal dengan konsep “jati diri koperasi” yang
dalam bahasa inggris akrab disebut
dengan singkatan ICIS (ICA Cooperative
Identity Statemen), sebagaimana di jelaskan berikut ini :
1.
Defenisi: Koperasi adalah
perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial & budaya bersama
melalui perusahaan yang mereka miliki bersama & mereka kendalikan secara
demokratis.
2.
Nilai-nilai: Koperasi
berdasarkan nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggungjawab sendiri,
demokrasi, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan. Anggota koperasi percaya
pada nilai-nilai etis kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial, serta
peduli terhadap orang lain.
3.
Prinsip-Prinsip; (a) Keanggotaan sukarela dan terbuka; (b)
Pengendalian oleh anggota-anggota secara demokrasi; (c) Partisipasi ekonomi
anggota; (d) Otonomi dan kebebasan; (e) .Pendidikan, pelatihan dan informasi; (f)
Kerjasama antar koperasi dan; (g) Kepedulian terhadap komunitas
Dari statemen ICA diatas, jelas bahwa koperasi merupakan organisasi
yang tidak bebas nilai. Artinya, dalam semangat maupun operasionalisasi nya
koperasi harus tunduk dan patuh pada defenisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip.
Secara telusur logika, ada 3 (tiga) alasan rasional mengapa koperasi layak taat dan patuh
terhadap konsep jati diri, yaitu;
1.
“Jati
diri” merupakan alat pembeda nyata antara koperasi dengan bukan
koperasi.
2.
Sebagai
alat pemersatu. Hal ini mengingat
bahwa koperasi adalah kumpulan orang yang begitu variatif (latar belakang,
sejarah, pemikiran dan kepentingan). Dengan demikian, konsep “jati diri” ini bisa
berfungsi sebagai rujukan dalam menyerap dan mewujudkan segala aspirasi dan
kebutuhan yang berkembang di keseharian koperasi.
3.
“jati diri” koperasi sesungguhnya
merupakan sumber keunggulan yang akan membawa koperasi dan segenap stake
holder nya menjadi kuat dan
sejahtera dalam arti luas.
D. Pengawasan Kopma
Pengawas adalah bagian dari perangkat organisasi yang secara defenisi tugas
utamanya mengawasi jalannya koperasi. Dalam tinjauan ideal, pengawas memiliki 2
(dua) obyek yang harus diawasi, yaitu : pengurus dan anggota.
Di wilayah kepengurusan, pengawas melakukan pengawasan dengan maksud bahwa
pengurus selaku pemegang amanah RAT (Rapat Anggota Tahunan) benar-benar
menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai yang diamanahkan. Sementara itu,
pengawas juga mengawasi konsistensi daya dukung anggota dalam setiap aktivitas
yang dijalankan oleh anggota, khususnya dalam hal partisipasi. Dengan mengawasi
kedua sisi ini, maka pengawas bisa melakukan analisa efektivitas ragam strategi
yang diterapkan dalam menumbuhkembangkan koperasi. Dengan kata lain, pengawasan
kedua sisi ini juga dimaksudkan mengukur kualitas kolektivitas (baca:
kebersamaan) di antara segenap unsur organisasi. Dalam konteks yang lebih luas,
pengawas juga perlu mengawasi bagaimana pengurus dalam mengembangkan kerjasama
saling menguntungkan dengan berbagai pihak kaitannya peningkatan eksistensi dan
perluasan kebermaknaan kopma bagi segenap anggotanya.
Secara teknis, lingkup kepengawasan minimal meliputi hal-hal sebagai
berikut :
1. Aspek filosofis. Satu hal yang menjadi
perhatian, “filosofi organisasi” adalah hal yang mendasari berperasionalnya
sebuah organisasi. Oleh karena itu, nilai-nilai filosofi organisasi benar-benar
harus terjaga dan menjadi “roh” atau “semangat” dalam menjalankan dan mengembangkan
organisasi. Dengan demikian, spirit organisasi senantiasa efektif bagi tumbuh
kembangnya organisasi. Oleh karena itu,
nilai-nilai filosofi Kopma (baca: konsep jati diri koperasi) harus terus
menerus di edukasikan secara terus
menerus dalam metode yang variatif sehingga tingkat efektivitasnya lebih
terjamin.
2. Aspek Organisasi dan
kaderisasi. Organisasi dan kaderisasi perlu
dijadikan salah satu fokus, khususnya bagi Kopma. Periodisasi kepengurusan yang
relatif singkat, menjadikan “kederisasi” sebagai tulang punggung dan
jaminan bagi keberlanjutan organisasi dan keterjagaan karya. Fakta menunjukkan
bahwa turun naiknya grafik Kopma sering sekali terjadi di Indonesia dan hal ini
di tengarai akibat belum adanya konsep kaderisasi yang teraplikasikan dengan terencana
dan terukur.
Oleh karena itu, sebagai koperasi kader, Kopma harus memfungsikan diri sebagai
pencetak kader-kader handal yang tidak hanya akan melanjutkan estafet
kepemimpinan kopma, tetapi juga mengambil tanggungjawab dalam menumbuhkembangkan
koperasi dalam arti luas di Indonesia.
3. Aspek Manajemen Usaha. Usaha dalam Kopma
merupakan media pelayanan bagi pemenuhan kebutuhan anggota. Oleh karena itu,
diperlukan manajemen yang baik sehingga kualitas layanan koperasi mendatangkan
rasa nyaman dan sekaligus menumbuhkan kepercayaan anggota terhadap
koperasi. Cita rasa pelayanan koperasi harus
menunjukkan “spirit koperasi” yang kental, sehingga perbedaan nyata koperasi
dan non koperasi terlihat nyata dalam tingkat operasionalisasi perusahaan
koperasi.
4. Aspek administratif . Salah satu nilai-nilai
yang diyakini koperasi adalah kejujuran dan transparansi. Untuk itu, koperasi
perlu didukung oleh administrasi tertib yang menjelaskan tentang segala
aktivitas dan capaian-capaian yang diperoleh koperasi. Dengan demikian, keyakinan anggota terhadap
koperasi terjaga dan pada akhirnya meningkatkan gairah segenap unsur organisasi
dalam meningkatkan kualitas kolektivitasnya (baca: kebersamaan). Disamping itu,
administrasi juga merupakan arsip berjalan bagi sebuah organisasi dan
berfungsi sebagai pengganti penjelas dari perjalanan sebuah organisasi, sehingga arsip
tersebut bisa sebagai pengganti orang dalam menjelaskan banyak hal.
E. “Penjaga Moral” adalah Sisi Lain Tugas
Kepengawasan
Berdasarkan pengalaman empiris, para pemimpin moral memegang peranan strategis bagi keterjagaan
karya dan tumbuhnya semangat setiap orang untuk melakukan yang terbaik bagi kepentingan
perkembangan organisasi. Dalam situasi Kopma, pengawas harus memerankan diri
sebagai penjaga moral tersebut, mulai dari menjaga spirit segenap unsur
organisasi, pertumbuhan dan perkuatan organisasi & usaha kopma dan
eksistensi kelembagaan dalam arti luas. Oleh karena itu, kewibawaan pengawas
berlandaskan ketauladanan menjadi mutlak diperlukan bagi efektivitas
menjalankan tugas sebagai penjaga moral perjuangan.
Dalam organisasi apapun, keberadaan penjaga moral ini terbukti sangat
diperlukan dan berpengaruh besar dalam keseharian organisasi.
E. Penutup
Efektivitas pengawasan terletak pada keterbentukan insan-insan koperasi yang memiliki integritas tinggi dengan 3 (tiga) indikator; (i) merasa diawasi Tuhan tanpa perlu diawasi manusia; (ii) memperbaiki yang belum baik dan yang sudah baik dan; (iii) kesejahteraan adalah imbas bukan target. Pada insan-insan koperasi yang memiliki integritas pantas berharap kemajuan Kopma. kolektivitas koperasi yang berkualitas juga hanya layak diharapkan dari kumpulan insan-insan koperasi yang memiliki integritas tinggi.
Kopma yang berpenghuni orang-orang yang memiliki kadar intelektual dan berada di lingkungan kampus yang dikenal
sebagai gudang ilmu pengetahuan, selayaknya mampu mewujudkan sebuah koperasi
yang menginspirasi banyak orang, baik dalam hal apresiasi terhadap nilai-nilai
yang diperjuagkan koperasi, maupun dalam hal menumbuhkembangkan gairah untuk
meniru kebaikan-kebaikan yang dihasilkan kebersamaan di Kopma. Inilah yang
disebut sebagai tanggungjawab moral bagi para aktivis kopma.
Demikian pemikiran sederhana ini disampaikan, semoga menginspirasi kebaikan dan menstimulan energi pembuktian bagi kelahiran karya-karya spektakuler berdimensi makna yang luas dan layak ditauladani banyak orang. Aminn Ya Robbal 'Alamin.
+ komentar + 1 komentar
Keren bung, inspiring
Posting Komentar
.