MEMBANGUN KOLEKTVITAS PENGUSAHA
Sebatas Mimpi KAH ???
A.
Pembuka: sebentuk catatan kecil
Berkontemplasi
dan mencoba memandang tema yang diminta panitia dalam waktu cukup lama, sepertinya tema “membangun
kolektivitas” berisi satu pesan bijak yang layak menjadi bahan
perenungan bersama. Sebab didalam thema tersebut mengandung mimpi besar berkaitan dengan pertumbuhan geliat dunia
usaha di lingkungan Kabupaten Banyumas. Tampaknya, adalah tema menarik untuk mengkaji kemungkinan melakukan
penyatuan kepentingan dalam nuansa kebersamaan diantara para pelaku dunia usaha.
Satu hal yang menjadi catatan penting, sesungguhnya hal ini bukan perkara
mudah walau bukan tidak mungkin
mewujudkannya ketika semua memiliki keyakinan yang cukup dan belajar
mempercayai satu sama lain.
B. Efektivitas
Gaung Investasi dan Sebentuk Tanya Besar
Untuk
5 (lima) tahun terakhir Pemkab Banyumas menggalakkan investasi, sebuah tema
yang mendorong tumbuh kembangnya produktivitas masyarakat Banyumas dalam arti
luas. Berbagai sarana dan prasarana disiapkan oleh pemkab dengan harapan mampu menggairahkan
para pelaku usaha mengembangkan usahanya di wilayah Banyumas.
Tema
ini tampaknya efektif dan mampu menggairahkan dunia usaha. Beberapa perusahaan
berbenah dan disisi lain project berskala sedang dan besar mulai berdiri dan bahkan sebagian
sudah beroperasi. Situasi ini tentu menggembirakan, karena investasi bukan
hanya sebatas berdirinya perusahaan-perusahaan ber-skala besar, tetapi juga
melahirkan multiplier effect yang dalam satu kalimat dijelaskan sebagai media
peningkatan
kesejahteraan dalam arti luas.
Tanpa
bermaksud bersikap primordialis, terbersit tanya seberapa besar prosentasi peran
pemain lokal dari pertumbuhan investasi tersebut..???.
Sekali lagi, ini bukan primordialis atau fikiran sempit ditengah pemberlakuan AEC
(Asian Economic Community) yang sudah di depan mata (diberlakukan tahun 2013),
tetapi tanya ini dimaksudkan untuk membangun gairah produktif dari
para pelaku usaha di Kab.Banyumas.
Adalah hal yang tidak lucu, ketika Kabupaten Banyumas yang dikaruniai
banyak potensi tetapi para pemain lokal hanya menjadi penonton atau hanya
mengambil bagian kecil dari hal besar yang sedang mereka lakukan di Kabupaten
Banyumas. Sentimen semacam ini layak dijadikan sebagai sumber spirit bagi
terbentuknya lompatan karya dari para pemain lokal. Hal ini menjadi
penting dan sesungguhnya berpeluang
untuk dicapai.
C.
Ketika Semangat dan Mental Penentu Skala Usaha
Dalam
banyak buku dan juga pengalaman empiris beberapa pengusaha sukses menyepakati
bahwa bisnis sesungguhnya 95% persoalan semangat & mental dan 5% tentang operasional teknis. Hal
ini bisa dimenegrti, karena usaha tidak hanya tentang ketajaman instuisi tetapi
juga menyangkut mental alias keberanian mengambil satu keputusan. Sebab,
keberanian mengambil keputusan bukan hanya dikarenakan bayang indah sebuah
keberhasilan tetapi juga tentang
kesiapan atas resiko yang mungkin muncul kemudian akibat dari sebuah
keputusan. Cara baca inilah kemudian melekatkan dunia usaha dengan kata “spekulasi”
yang didefenisikan sebagai pilihan sikap dari proses kombinasi ketajaman
instuisi , akal terbaik dan nyali yang
kuat.
Sesungguhnya,
semua keberanian bukan tanpa kekhawatiran, tetapi kemampuan menepis
kekhawatiran dan keberhasilan-keberhasilan yang
terakumulasi, secara alamiah memupuk dan
mempertebal keberanian untuk melangkah ke level
yang lebih besar. Dengan kata lain, pertumbuhan perusahaan sesungguhnya
merupakan imbas dari akumulasi efektivitas berbagai strategi dan langkah di
sepanjang proses perjalanannya. Artinya, hampir semua yang besar berawal dari kecil walau hal ini bukan
bermakna peran semangat dan akal tak bisa mempercepat prosesnya.
Pada
akhirnya, pertumbuhan semangat dan mental linier alias sejalan dengan
pertumbuhan skala usaha. Pertanyaan
menarik adalah seberapa besar semangat dan upaya para pelaku usaha di Kab
Banyumas????.
D.
Mengintip “Peta dan Gaya”
Kapasitas
pelaku usaha memiliki hubungan erat
dengan luas usaha yang digarap.
Kapasitas tidak hanya menyangkut persoalan kekuatan modal tetapi juga tentang
keluasan visi dan pola pengelolaan usaha. Visi sebagai refresentasi semangat
dan cita-cita merupakan sumber inspirasi
dan energi dalam menata tahapan-tahapan
dalam proses perwujudannya. Dengan kata lain, keluasan visi dan
kualitas tahapan-tahapan memiliki relevansi kuat tentang luasan usaha yang
akan tercipta.
Oleh
karena itu, menjadi menarik untuk mengintip peta dan gaya perusahaan-perusahaan yang ada di purwokerto,
sebagai bagian dari cara untuk memprediksi seberapa jauh “tema investasi” linier terhadap pertumbuhan gairah pelaku
usaha untuk menumbuhkembangkan usahanya.
Sebagai
awalan, berikut dipaparkan sebentuk hasil
pengamatan (baca: bukan penelitian ilmiah) yang mungkin bisa menjadi inspirasi awal . Sepanjang
pengamatan dalam 5 (lima) tahun terakhir, perusahaan-perusahaan di lingkungan
Kab. Banyumas (mulai dari skala mikro sampai besar) dapat di golongkan menjadi
2 (dua) gaya yaitu :
1.
Berbasis Instuisi.
Golongan ini menempati porsi mayoritas
(lebih kurang 75%). Perusahan-perusahaan semacam ini lebih di dominasi oleh
ketajaman instuisi bisnis sang pengusaha dan kemudian dioperasionalkan dengan
pola yang belum teratur, seperti belum adanya perencanaan yang rigit, kontrol
yang masih berbasis kepercayaan murni, hubungan dengan karyawan layaknya
majikan–buruh dan lain sebagainya. Perusahaan semacam ini relatif tumbuh secara
alamiah berdasarkan perkembangan ketajaman dan perkembangan instuisi bisnis
sang pengusaha. Pola hubungan “majikan-buruh”, membuat sang pengusaha memiliki
“powerfull”
dan karyawan berposisi pelaksana murni yang hampir tidak memiliki keberanian dan kesempatan menyumbangkan gagasan dan pemikiran dalam
melakukan inovasi-inovasi baru. Bila terjadi kegagalan dalam jenis ini sulit
untuk dilakukan review, disamping terbatasnya data pendukung, juga disebabkan
belum adanya konsep perencanaan yang matang dan bersipat jangka panjang.
Akibatnya, kegagalan hanya bisa dievaluasi berdasarkan ingatan saja.
2.
Berbasis Kombinasi Instuisi dan
Manajemen. Golongan ini menempati posisi lebih kurang 25% yang kemudian berdasarkan pelakunya dibagi menjadi 2 (dua) yaitu; (i) perusahaan lokal sekitar
25% dan; (ii) 75% perusahaan-perusahaan cabang dari kota-kota besar di
Indonesia. Pada pola ini, ketajaman instuisi dalam membaca atau membentuk
peluang bisnis di ikuti dengan satu analisa dan perencanaan yang matang. Oleh
karena itu, biasanya perusahaan semacam ini melibatkan SDM-SDM berkualitas yang
tergabung dalam manajemen. Dalam operasionalisasinya, manajemen berperan sebagai intrepreter
gagasan owner (baca: sang pengusaha) ke dalam tindakan-tindakan yang
terencana dan terukur serta
teroperasionalkan secara sistematis. Pertumbuhan perusahaan jenis ini tentu lebih
terukur dan pengembangan visi perusahaan lebih memungkinkan. Budaya pengelolaan
pun memiliki ke-khas-an yang terbentuk melalui serangkaian tahapan yang
berkesinambungan.
Sebenarnya,
2 (dua) gaya ini adalah persoalan pilihan saja, sebab tak ada satu pun yang
berani menjamin kalau gaya yang satu lebih unggul dibanding gaya lainnya pada
urusan hasil akhir. Hanya saja , ketika logika berkehendak untuk
menilik dan sekaligus menganalisa detail proses sejak awal sampai ke akhir,
gaya yang ke-2 (dua) lebih memberi bantuan kemudahan . Demikian juga dalam
halnya ketika perusahaan ingin mengembangkan
mutual
partnership (kerjasama saling menguntungkan) dengan berbagai pihak, tentu gaya ke-2 lebih berpeluang
dikarenakan tersedianya data-data historis dan terukurnya performance
perusahaan lewat capaian-capaian yang dilakukan oleh sang owner dan manajemen,
E.
Menggagas Kolektivitas Sebagai Sebuah “Cara”
Dalam
lingkungan usaha, kolektivitas merupakan salah satu cara alternatif dalam
mengakslerasi dan sekaligus mengembangkan tujuan-tujuan yang lebih besar.
Sebagai satu perhatian, dalam era bisnis yang hyper competitive seperti
saat ini, bekerja sama (baca: kolektivitas)
adalah salah satu cara bentuk strategi bertahan (survive) dan atau berkembang.
Fakta
menunjukkan, banyak yang punya gagasan tetapi tidak memiliki sarana yang cukup
untuk merealisasikannya dan disisi lain ada yang memiliki sumber daya yang
cukup tetapi tidak memiliki gagasan untuk pemanfaatannya. Ketika kedua belah
pihak dipertemukan, maka peluang
penciptaan sinergitas dari keduanya menjadi sangat mungkin.
Pada
perusahaan sejenis yang memiliki market sama, kerjasama bisa bermakna penyatuan
pasar. Pola kerjasama semacam ini tidak hanya akan menghilangkan tensi
persaingan, tetapi juga peluang peralihan energi dari saling mengalahkan
menjadi saling memperkuat. Pada perusahaan yang memiliki hubungan
siklus produksi, misalnya perusahaan bahan baku dengan perusahaan pengolahan
lanjutan, kerjasama bisa berfungsi saling memperkuat dalam hal keterjaminan
produksi. Pada perusahaan-perusahaan yang ingin membangun “mimpi besar” tetapi
memiliki keterbatasan modal, maka kerjasama adalah alternatif yang sangat
mungkin untuk ditempuh. Demikian seterusnya yang bisa dibentuk berdasarkan kesamaan visi dan juga kepentingan.
Dalam
tinjauan pra-syarat, ada 2 (dua) hal
minimal yang harus terpenuhi sebelum
membentuk kerja sama, yaitu :
1.
Saling mempercayai. Kepercayaan adalah modal terpenting dalam membangun kerja sama yang nyaman dan
langgeng. Kepercayaan tidak lahir dalam
waktu singkat, tetapi merupakan akumulasi dari track record (rekam
jejak) kebaikan dan konsistensi. Oleh
karena itu, setiap pengusaha secara sadar harus membangun mesin reputasi dalam
bentuk karya-karya nyata. Satu hal yang menjadi catatan penting bahwa reputasi tidak bisa dibentuk lewat manipulasi persepsi, sebab waktu
akan menguji keabsahan reputasi itu sendiri.
2.
Kebermanfaatan.
Dalam perspektif produktivitas, kemitraan yang terbangun di antara pelaku
usaha men-syaratkan adanya perekat berbentuk peningkatan nilai kebermanfaatan.
Dengan demikian, bayang kebermanfaatan itu akan menjadi penyemangat dan
sekaligus sumber energi dalam proses pencapaian hal-hal yang dikerjasamakan.
Sementara
itu, dalam tingkatan operasional dan kelanggengan, kerjasama memerlukan beberapa kondisi yang
antara lain :
Semua
berharap kelanggengan sebuah kerjasama. Namun demikian, terkadang kenyataan tak
seperti harapan. Ada beberapa hal yang sering menjadi faktor retaknya sebuah
kerja sama, antara lain :
1.
Konsistensi. Terkadang
sebelum kerjasama dua belah pihak bisa saling menjaga konsistensinya. Namun demikian, pada tahapan operasionalisasi kerja sama sering muncul in-konsistensi
yang berakibat salah satu pihak merasa di rugikan. Pada titik inilah mulai
muncul konflik yang tak jarang berujung pada berakhirnya sebuah kerjasama yang
sebenarnya saling menguntungkan.
2.
Transparansi.
Transparansi atau keterbukaan adalah persyaratan mutlak langgengnya sebuah
kerjasama. Namun demikian, terkadang hal
ini sulit diwujudkan ketika salah satu pihak ingin mengambil keuntungan sepihak
secara diam-diam.
3.
Permasalahan Ber-bagi.
Inilah persoalan yang sering menjadi faktor utama retaknya sebuah kerjasama.
Berbagi bukanlah perkara mudah, sebab berbagi tidak hanya sekedar urusan membagi
yang adil, tetapi juga menyangkut keikhlasan menerima bagian, baik
dalam hal tanggungjawab maupun dalam hal “menikmati hasil”. Ini persoalan
mentalitas dan karakter.
4.
dan lain sebagainya
Sebagai
stimulan berikut ini dijabarkan beberapa gagasan yang mungkin bisa
menginspirasi dan atau memang sudah dilaksanakan diantara beberapa perusahaan di
lingkungan Kab.Banyumas, yaitu :
1. Kerjasama
Internal. Gagasan ini tampak aneh, tetapi pola komunikasi dan
interaksi owner dan karyawan seungguhnya memiliki nilai strategis bagi
pengembangan perusahaan. Sebagai sebuah catatan, pengusaha adalah
individu kreatif yang selalu ber ide dan berkeputusan, namun tangannya tetap hanya
2 (dua). Artinya, dalam mengintrepretasikan ragam gagasan ke dalam satu
tindakan terencana, teratur dan terukur, sang pengusaha membutuhkan orang lain
yang kemudian biasa disebut karyawan atau manajemen. Kalau demikian adanya,
hakekat pola interaksi pengusaha dan karyawan adalah kerjasama saling
menguntungkan. Oleh karena itu, keberadaan
karyawan dari sekedar orang yg sering dipersepsikan menumpang hidup sepertinya
lebih bijak ketika dijadikan partner yang saling memperkuat. Hal
ini bukan hanya persoalan kemanusiaan, tetapi cara baca semacam ini akan
mempengaruhi pola komunikasi dan interaksi menjadi lebih apresiatif dan pada
akhirnya berpengaruh pada penciptaan akselerasi dalam pencapaian visi perusahaan. Pola
komunikasi dan interaksi seperti majikan-kuli
sepertinya sudah saatnya di tinggalkan. Superioritas sudah saatnya diganti
dengan super tim demi terciptanya akumulasi energi yang akan mempertinggi
peluang peningkatan hasil akhir.
2.
Kerjasama dalam hal kualitas output
dan kontinuitas produksi. Hal ini bisa diaplikasikan pada
usaha-usaha yang sejenis, seperti penyedia bahan baku, pengolahan lanjutan dan
bahkan pemasaran barang jadi. Dengan
demikian, kualitas dan kuantitas produksi menjadi lebih memungkinkan dan semua
pihak yang terlibat dalam siklus produksi sampai penjualan akan besar
bersama.
3.
Kerjasama pemasaran. Sering kita
mendengar bahwa banyak yang bisa melakukan produksi tetapi memiliki
keterbatasan dalam hal memasarkan, baik karena terbatasnya informasi market,
keterbatasan dalam hal sarana distribusi dan keterbatasan lainnya. Pada hal
yang demikian, kerjasama pemasaran adalah solusi yang paling tepat untuk
diambil.
4.
Kerjasama Teknologi. Dalam zaman
yang kian canggih seperti sekarang ini, pelibatan teknologi dalam siklus
operasional usaha menjadi sebuah kebutuhan. Namun demikian, disisi lain,
pelibatan teknologi terkadang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Disinilah
peran kerjasama berpeluang menciptakan
apa yang di sebut “efisiensi kolektif”.
5.
Kerjasama permodalan. Fakta
menunjukkan bahwa sering seorang pengusaha mendapatkan satu peluang jangka pendek tetapi memiliki keterbatasan
dalam hal ketersediaan modal dan sarana pendukung lainnya. Namun disisi lain, terkadang ada pengusaha yang sedang
memeiliki idle cash alias uang
nganggur. Kerjasama semacam ini efektif untuk saling mendukung.
6.
Kerjasama investasi. Bicara
investasi dalam skala menengah dan besar memang memerlukan modal yang tidak
sedikit, sehingga terasa berat dan bahkan menjadi tidak mungkin bila di emban
sendirian. Namun demikian, ketika di gotong rame-rame melaui satu ikatan
kerjasama yang kuat, maka hal-hal besar menjadi sangat mungkin untuk dilakukan.
Hal ini patut menjadi masukan bagi pra pelaku usaha, sehingga peluang melakukan
lompatan karya lebih terbuka.
7.
Dan lain sebagainya.
F. Penutup
Kolektivitas adalah sebuah pilihan strategis untuk masuk ke area bisnis yg lebih besar. Disamping berpotensi saling memperkuat, penyatuan market, pengurangan tensi kompetisi yang berujung pada konflik berkepanjangan, menciptakan efisiensi, kolektivitas juga bagian dari cara meminimalisasi resiko mungkin muncul kemudian. Kolektivitas juga meningkatkan peluang perusahaan-perusahaan lokal dalam menangkap peluang investasi berskala besar di lingkungan Kab.Banyumas.
Namun demikian, apakah menjadi pemain utama., menjadi penonton atau menjadi bagian kecil dari investasi yang dimainkan orang lain dan bahkan menjadi karyawan di daerah sendiri , sesungguhnya semua itu hanya persoalan pilihan. Semua pilihan terbuka dan tergantung cara memaknai dan mengintrepretasi setiap kondisi yang ada, sebab pilihan atas sesuatu sangat tergantung keyakinan dan mindset masing-masing orang.
Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga pemikiran sederhana ini menginspirasi kebaikan dan memantik gairah untuk melahirkan karya-karya spektakuler yang mempunyai efek luas bagi peningkatan kesejahteraan, khususnya rakyat Banyumas. Satu hal yang menjadi catatan akhir, pertumbuhan perusahaan bukan hanya persoalan pertumbuhan laba saja, tetapi juga perluasan kebermanfaatan bagi banyak orang. Amin.
================================================================================
B. Sambutan Kepala BPMPP Kab. Banyumas;
Kolektivitas adalah sebuah pilihan strategis untuk masuk ke area bisnis yg lebih besar. Disamping berpotensi saling memperkuat, penyatuan market, pengurangan tensi kompetisi yang berujung pada konflik berkepanjangan, menciptakan efisiensi, kolektivitas juga bagian dari cara meminimalisasi resiko mungkin muncul kemudian. Kolektivitas juga meningkatkan peluang perusahaan-perusahaan lokal dalam menangkap peluang investasi berskala besar di lingkungan Kab.Banyumas.
Namun demikian, apakah menjadi pemain utama., menjadi penonton atau menjadi bagian kecil dari investasi yang dimainkan orang lain dan bahkan menjadi karyawan di daerah sendiri , sesungguhnya semua itu hanya persoalan pilihan. Semua pilihan terbuka dan tergantung cara memaknai dan mengintrepretasi setiap kondisi yang ada, sebab pilihan atas sesuatu sangat tergantung keyakinan dan mindset masing-masing orang.
Demikian tulisan sederhana ini disampaikan, semoga pemikiran sederhana ini menginspirasi kebaikan dan memantik gairah untuk melahirkan karya-karya spektakuler yang mempunyai efek luas bagi peningkatan kesejahteraan, khususnya rakyat Banyumas. Satu hal yang menjadi catatan akhir, pertumbuhan perusahaan bukan hanya persoalan pertumbuhan laba saja, tetapi juga perluasan kebermanfaatan bagi banyak orang. Amin.
================================================================================
PROCEEDING
PERTEMUAN
Pembukaan jam 10.30
wib
A. Peserta :
A. Peserta :
- Kepada BPMPP Banyumas (cq.
Bapak Suryanto)
- Kabag.pemasaran Inevstasi
BMPP (cq. Pak Haris)
- Kasubid kerjasama bid
promosi (cq.Pak tasroh)
- Staff di linkungan BMPP Kab. Banyumas
- Staff di lingungan Disperindagkop Kab. Banyumas
- Assosiasi-Assosiasi dan pengusaha Kab. Banyumas
- Nara sumber :
- Direktur Kredit Bank Surya Yudha (cq. Abdul Khoir)
- Wakil ketua Kadin (cq.
Muhammad Arsad D)
B. Sambutan Kepala BPMPP Kab. Banyumas;
- Ada 5000 pengusaha di purwokerto.
- Agresivitas masih kurang dalam hal investasi.
- Evaluasi atas kinerja investasi ; auto koreksi, mulai pelayanan maupun regulasi.
- Peningkatan iklim investasi kondusif dan mengajak segenap pelaku dunia usaha meningkatkan gairahnya menanamkan modalnya di wilayah Banyumas.
- Di kab banyumas sedang dibangun pabrik semen yang menyerap 2000 tenaga kerja.
- Kawasan Industri di arahkan di
wilayah wangon, ajibarang dan sebagian kemranjen dan tambak. Untuk
industri kecil di pusatkan di Sokaraja.
- Berharap pelepasan tanah untuk kepentingan investasi tidak menggunakan pihak ke-3, tetapi langsung oleh pengusaha/perusahaan yang berinvestasi.
- Tahun 2013 BPMPP akan membuat kebijakan tentang pembangunan perumahan dengan membuat peta sasaran lokasi pemukiman sesuai RURTK. Oleh karena itu, kepada pengembang disarankan agar jangan tergesah2 membeli tanah sebelum mengkomunikasikannya dengan pihak investasi pemkab banyumas.
- Banyak potensi Banyumas tetapi digarap
oleh pihak eksternal, sementara pemain lokal hanya memainkan hal-hal kecil. Seperti
semen, kuliner dan lain sebagainya yang di lakukan oleh pengusaha luar.
- Diharapkan kepada KADIN Banyumas untuk bisa membantu memberi
pencerahan dan solusi agar gairah para pengusaha bisa tumbuh dalam hal
berinvestasi.
C. Testimonial Bank Surya Yudha (BSY)
Berdiri 1992, modal awal Rp 120 dan karyawan Rp 13 juta. Sang pendiri alumnus bank of Tokyo.per 29 sept 2012 assetnya lebih dari 1 triliun, 861 karyawan. Sebuah karya yang menginspirasi.
Berdiri 1992, modal awal Rp 120 dan karyawan Rp 13 juta. Sang pendiri alumnus bank of Tokyo.per 29 sept 2012 assetnya lebih dari 1 triliun, 861 karyawan. Sebuah karya yang menginspirasi.
D. Diskusi
- Bu Ani, Pengusaha Gas Elspigi 3 kg.
Antara wong dan uang. Apa yg kita dapat yang sesuai jatah yg ada. Bagaimana mengembangkan investasi di luar sektor migas yang sedang ditekuni. Mohon arahan dan gagasan. - Pak Yusron (Produsen Paving).
Membangun komunikasi dengan kawan2 produsen paving. Perlu kebijakan pemda dalam membantu dan membina pelaku usaha di lingkungan banyumas, misalnya tentang spec pekerjaan di pemerintahan disesuaikan dengan kemampuan pengusaha lokal. - Bapak Mukhotif/ cilongok.
Produsen gula kelapa. Kami
mengalami masalah persoalan perizinan, sebab hal ini menghambat dalam hal
pemasaran.
- Taufik Nur Rohman. Pengusaha Jamur.
Bagaimana cara menjaga spirit kolektif agar sebuah kelompok tetep terjaga sebagaimana niat awal pebentukannya.
E. Saran yang berkembang.
Kadin atau assosiasi layak memperjuangkan spec yang bisa dipenuhi oleh pemain lokal. Disamping itu, diikuti dengan pembinaan kualitas.
Kadin atau assosiasi layak memperjuangkan spec yang bisa dipenuhi oleh pemain lokal. Disamping itu, diikuti dengan pembinaan kualitas.
Acara di tutup jam 14.00 wib
GALLERY
Posting Komentar
.