BERBISNIS SAMBIL KULIAH,MUNGKIN KAH ????? | ARSAD CORNER

BERBISNIS SAMBIL KULIAH,MUNGKIN KAH ?????

Minggu, 27 November 20110 komentar


Disampaikan pada acara seminar kewirausahaan yang dilaksanakan Bursa FE, UNSOED di Lt.II Rektorad UNSOED, 20 September 2006


A.  Prolog
“Kewirausahaan” merupakan istilah yang sepuluh tahun terakhir menjadi tofik menarik dan sering menjadi thema acara-acara ilmiah seperti seminar, lokakarya dan lain sebagainya. Hal ini tidak lepas dari terjadinya krisis moneter  yang berlanjut pada krisis ekonomi  dan berakibat pada peningkatan angka pengangguran cukup tajam di negeri ini. Dengan demikian,  pengembangan wacana kewirausahaan diharapkan mampu merubah paradigma berfikir masyarakat usia produktif dari mencari  pekerjaan menjadi  menciptakan pekerjaan.

Krisis moneter dan ekonomi  kemudian menjelma menjadi krisis multi dimensi,situasi sulit tak terelakkan dan banyak rakyat yang jatuh dalam garis kemiskinan. Kurang bijak untuk berdebat dan menyalahkan siapapun atas krisis yang terjadi. Jauh lebih tepat berkontmeplasi dan mengambil langkah cerdas untuk melakukan sesuatu yang diharapkan mampu berkontribusi nyata bagi penyelesaian masalah-masalah yang ada dan sekaligus menciptakan harapan-harapan baru. 


Data statistik menunjukkan betapa kecilnya prosentase masyarakat indonesia  yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi.  Oleh karena itu, keberadaan kita dalam lingkungan kampus merupakan karunia besar dari Sang Pencipta yang harus disyukuri dalam bentuk  bijak lewat pengambilan peran-peran strategis secara sadar dan penuh tanggungjawab.  Hal ini sebagai bentuk terimakasih kepada Sang Pencipta dan juga masyarakat atas peran mereka (lewat pembayaran pajak dan lain sebagainya) sehingga kita bisa berada disini melakukan proses pengembangan keilmuan.

Banyak pilihan peran yang tersedia sebagai bentuk intrepretasi rasa syukur kepada Tuhan  dan tanggungjawab moral kepada masyarakat.  Tidak perlu berfikir terlalu muluk-muluk kalau kemudian menjembakkan kita pada rasa ketidakkberdayaan dan pada akhirnya kita tidak berbuat apapun.. Bertekad untuk “hidup mandiri” dan  tidak menjadi beban orang lain adalah hal terkecil yang bisa anda lakukan. Untuk itu, saatnya berkomitmen dan melakukan serangkaian langkah konstruktif  yang mengarah pada terciptanya kemandirian dan sekaligus menggagas peluang menciptakan kehidupan dan masa depan bagi orang lain.

Secara obyektif, mwujudkan kemandirian memang tidak sesederhana membalikkan telapak tangan atau semudah mengucapkannya.  Hal itu memerlukan perjuangan keras, ketekunan, keuletan, konsistensi dan mental baja.  Namun, ketika anda sudah bertekad dan diikuti niat yang tulus dan ikhlas, Insya Allah akan diberikan jalan dan kemampuan oleh Sang Pencipta. 

B.  Sesuatu Yang Besar Berawal Dari Yang Kecil.
Ada penggalan kalimat penyemangat yang pernah saya baca dari sebuah buku yang berbungi; “ Banyak orang  begitu mengagumi Amerika  yang mampu mengatur ritme dunia, namun hanya sedikit yang mencoba melihat bagaimana Amerika 200 tahun yang lalu dan berjuang keras mewujudkan keadaan seperti sekarang ini. keberhasilan saat ini adalah akumulasi dari pengorbanan panjang. Kemegahan dan kedigdayaan saat ini bukanlah sesutu yang terjadi begitu saja melainkan lewat proses jatuh bangun dan konsistensi semangat untuk melakukan perubahan. Setidaknya penggalan kalimat tersebut mempertegas bahwa “sesuatu yang besar berawal dari yang kecil.”

Dalam konteks semangat, kalimat tersebut mengajarkan  kita bahwa meraih mimpi yang besar selalu diawali dengan hal-hal kecil yang pada akhirnya akan terakumulasi dan menjelma menjadi sesuatu yang besar. Disamping  itu,kita juga dihimbau untuk tidak terjebak pada hal-hal instan yang membawa kita pada mental yang rapuh dan semangat juang yang rendah.

C.  “Memilih Cara” untuk “Mandiri”.
Dalam perspektif “ekonomi”, mandiri merupakan bentuk kebisaan seseorang untuk lepas dari beban bagi orang lain dan bahkan mampu menciptakan kehidupan lainnya. Setidaknya ada 2 (dua) pilihan saranan Untuk mencapai “mandiri” yaitu; manjadi pengikut bekerja pada orang lain (misalnya; perorangan,perusahaan ,instansi pemerintah dsb)  atau diikuti orang lain (menjadi pengusaha). Dua pilihan ini memang berbeda  yang antara lain dijelaskan dalam tabel berikut ini :

Titik Perbedaan
Mengikuti  (bekerja pada orang lain/perusahaan/instansi)
Menjadi Pengusaha
Memulai
mengajukan lamaran dan bersaing dengan para peminat lainnya memperebutkan tempat yang terbatas
kapanpun anda menginginkannya.

Kesempatan
Terbatas
Tidak terbatas
Status
Pekerja
Pemilik
Jam Kerja
Mengikuti aturan yang berlaku
Mengatur sendiri
Hari Libur
Sesuai dengan peraturan
Mengatur sendiri
Hasil
Gaji sesuai ketetapan perusahaan
Laba bersih
Jangka waktu
Terbatas
Tidak terbatas
Puncak prestasi
Karir
Perusahaan berkembang
Resiko terburuk
PHK
Bangkrut
Periode penghasilan
Sepanjang bekerja
Bisa seumur hidup dan bahkan sampai anak cucu

Tabel komparasi diatas setidaknya dapat dijadikan stimulan untuk melakukan kontemplasi dan kemudian menentukan pilihan. 

Sekilas tampak bahwa hal yang paling mudah untuk dipilih adalah menjadi pengusaha. Anda hanya cukup mengatakan; “saya pengusaha”dan itu tidak memerlukan modal apapun kecuali bersuara dan berkomitmen pada diri anda sendiri.Berbeda  ketika anda mengatakan “saya ingin jadi karyawan di perusahaan X atau  di Bank Y’. Untuk mewujudkannya, anda harus mengikuti serangkaian proses rekruitmen dan berjibaku dalam kontes perebutan kesempatan dan memenangkan persaingan. Mana pilihan anda ???.

Sejujurnya tidak ada yang buruk atas pilihan manapun dan yang terpenting adalah jangan pernah ragu atas pilihan sehingga tidak menyesal di kemudian hari.  Untuk menghindari kekeliruan, saya sarankan untuk melibatkan Tuhan dalam melakukan pilihan dengan harapan Tuhan akan senantiasa menemani, membimbing  dan membawa pada titik impian anda sesungguhnya.

D.  Harapan, Probabilitas dan Kapasitas
D.1. Harapan dan Probabilitas
Kalau dilakukan survey pada 1000 (seribu) orang tua yang sedang menghadiri wisuda anaknya, keyakinan saya mengatakan bahwa tidak lebih dari 5% (lima prosen) orang tua yang akan bertanya pada putera/I nya sesudah lulus mau usaha apa?. Mayoritas dari mereka berharap anaknya akan segera dapat pekerjaan di perusahaan besar atau menjadi pegawai negeri dengan jabatan yang menggiurkan . Tidak ada yang salah dalam harapan itu, namun perlu diingat rasionalitasnya dimana harapan tersebut berbanding terbalik dengan peluang yang ada. Ketika ada perekrutan PNS dimana kapasitas yang tersedia 200 orang, peminatnya/pelamar  mencapai angka sampai 20.000 (dua puluh ribu) orang dan atau bahkan lebih.  Hal demikian juga terjadi pada proses perekrutan karyawan/ti BUMN dan atau BUMS. Dengan demikian, adalah hal logis kalau kian hari angka pengangguran terus meningkat. Apakah anda akan menambah angka pengangguran itu ?.

Saya hanya menyampaikan realitas dan tidak bermaksud menciptakan rasa takut serta bukan berarti menetapkan anda tidak berpeluang menjadi PNS dan atau menjadi karyawan BUMN/BUMS. Hanya saja, semakin banyak peminatnya, semakin kecil probabilitas untuk sampai pada titik harapan. Namun demikian, kalaupun anda memilih untuk tetap ikut antrian lamaran pekerjaan….sejujurnya itu hak anda sepenuhnya. Siapa tahu nasib baik sedang berpihak pada anda.
D.2. Kapasitas
Kalau kita mengamati koran,majalah dan atau media lainnya, hampir setiap hari menampilkan kolom peluang kerja. Namun ironisnya, peluang tersebut selalu mencantumkan serangkaian persyaratan yang membuat para pelamar sampai pada titik asa terendah. 

Dari sisi pencari kerja, persyaratan ini memang sangat menjengkelkan karena sulit untuk memenuhinya. Namun,  dari sudut pandang kepentingan owner/pemilik perusahaan, pencantuman persyaratan yang demikian adalah merupakan hal wajar. Setidaknya, ada 2 (dua) alasan logis yang mendukung kewajarannya, yaitu:
a)      Kalau anda menjadi pemilik perusahaan, anda pasti menginginkan karyawan/ti mempunyai spesifikasi keahlian yang mumpuni, sehingga resiko kegagalan usaha menjadi lebih kecil. Disamping itu,
b)      Kalau kedatangan anda sebagai karyawan justru menambah biaya dan bukan menambah produktifitas, hanya pengusaha gila  yang akan mengambil mempekerjakan anda.

Oleh karena itu, kalau anda memilih mencari pekerjaan setidaknya ada beberapa hal yang perlu anda persiapkan :
a)      Model/jenis pekerjaan yang anda idam-idamkan. Hal ini harus dilakukan jauh sebelum berburu pekerjaan.
b)      Memahami dengan jelas segala sesuatu yang berkaitan dengan jenis pekerjaan yang anda idam-idamkan.
c)       Melakukan serangkaian persiapan yang konstruktif sejak dini, sehingga pada saat melamar, anda sudah memiliki keahlian sebagaimana yang dipersyaratkan.

Jika anda tidak melakukan minimal 3 (tiga) hal tersebut diatas, maka bersiaplah untuk bermimpi sepanjang masa.

 

E.  Kewirausahaan

Disamping mencari kerja, peluang yang tidak terbatas dan terbuka setiap saat adalah berwirausaha. Pilihan ini tidak mensyaratkan untuk menulis lamaran dan juga tidak melalui proses rekruitmen panjang. Anda bisa memulai kapanpun anda mau.

Kewirausahaan merupakan sikap mental untuk mandiri lewat penciptaan nilai tambah sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan sekaligus berpeluang menciptakan kehidupan bagi orang lain.

Dalam bahasa semangat, saya medefenisikan wirausaha menjadi 4 (empat) dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, yaitu;
1.      wirausaha/bisnis adalah upaya untuk memindahkan uang dari kantong orang ke kantong kita, dengan cara-cara yang disukai Tuhan atau Syaitan. Namun disarankan jangan memilih cara yang disukai syaitan.
2.      Bisnis adalah proses menyenangkan orang lain dan pada akhirnya menyenangkan diri sendiri. (kalimat ini tidak boleh dibalik)
3.      Ketika bisnis berkembang dan menciptakan lapangan pekerjaan, maka bisnis adalah tindakan menolong orang lain.
4.      Menolong orang lain adalah tindakan yang disukai Tuhan dan merupakan salah satu jalan untuk menuju ke sorga. Anda mau ????

Dari defenisi tersebut, sesungguhnya wirausaha bukanlah sesuatu yang hina, melainkan mengandung nilai ibadah. Dengan demikian, adakah alasan kuat untuk mengatakan bisnis adalah dosa ketika usaha yang anda jalankan adalah sesuatu yang masuk dalam kategori halal ???. 

F.  Masalah Klasik Memulai  Wirausaha
Ketika anda memutuskan untuk menjadi wirausahawan, biasanya ada 4 (empat) masalah klasik yang sekaligus hinggap dalam fikiran anda, yaitu:
1.      Berperang dengan diri anda sendiri
2.      Daya dukung keluarga dan lingkungan
3.      Modal
4.      bisnis apa

4 (empat) permasalahan mendasar ini hampir selalu datang bersamaaan, dan mempengaruhi seseorang  untuk menjaga niat menggeluti dunia usaha. Tapi, sebelum anda mengalami hal itu, bukanlah hal yang jelek untuk mencoba memahami beberapa cara pandang berikut ini dengan harapan akan menambah referensi anda untuk terus memupuk semangat untuk berwirausaha.

1.     Berperang  pada diri sendiri
Mampukah aku, malu..ah mosok anak pak…..dodolan, nek ora payu.piye.. isin…ah. Perasaan-perasaan dan fikiran semacam ini selalu menghantui ketika akan memulai usaha. Oleh karena itu, moment yang terpenting dalam dunia usaha adalah ketika anda mempunyai tekad yang kuat dan siap memulai apapun dengan segala resiko yang mengikutinya.  Adalah tidak gampang memilih berbeda, namun jadikan “semangat menciptakan perbedaan”  membuat hidup anda lebih kreatif dan  dinamis.

Tanpa bermaksud memprovokasi, saya mencoba mengillustrasikan 2 (dua) cara hidup berbeda berikut ini:
a)     Cara Hidup Seperti Kebanyakan Orang.
Bekerja jam 07.00-14.00 WIB, tidur siang sampai dengan jam 16.00, nonton TV sampai Jam 22.00  dan kemudian beranjak tidur dan demikian seterusnya.  Bukankah cara hidupa demikian dianut kebanyakan orang.
b)     Cara Hidup Diluar Kebiasaan Orang.
Ketika orang-orang tidur siang, anda sedang bekerja. Ketika orang bekerja, anda juga bekerja. Tentu hal ini tidak lazim dan diluar kebiasaan orang.

Kedua cara hidup diatas memang berseberangan, sehingga menjadi menarik untuk menelaah hasil akhirnya ?. Secara rasional, orang yang berusaha lebih banyak akan memiliki peluang yang lebih besar.  Dengan demikian, orang yang memilih cara hidup seperti kebanyakan orang selayaknya mendapat hasil seperti kebanyakan orang. Sementara itu, cara hidup yang diluar kebiasaan banyak orang, sangat memungkinkan mencapai tingkat keberhasilan  melebihi kebanyakan orang walau kemungkinan kegagalannya pun melebihi kemungkinan kegagalan banyak orang. Cara mana yang anda pilih ?.
2.     Daya Dukung Keluarga dan Lingkungan
Tidak bisa dipungkiri, keluarga dan  lingkungan berperan besar dalam  proses pembentukan kepribadian seseorang.  Sehingga tidak berlebihan berkesimpulan bahwa kepribadian sesorang merupakan personifikasi lingkungan dan keluarga.   “persepsi  dan ekspektasi” orang tua  menyekolahkan anaknya mayoritas adalah agar bisa bekerja pada perusahaan besar dan atau menjadi PNS dengan jabatan menggiurkan. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika seorang anak menggeluti dunia usaha biasanya tidak didukung bahkan ditentang. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat kita lebih suka mengikuti dan bukan diikuti. Disamping itu, Sejarah kehidupan bernegara menunjukkan bahwa kita pernah dijajah dan dikuasai oleh bangsa lain. Tanpa terasa, pengalaman pahit itu telah mengajarkan  bangsa kita untuk lebih bangga menjadi pengikut (follower) dan bahkan panakut ketimbang menjadi pioner. Pilihan mana yang anda pilih  ?.
3.     Modalnya dari mana ?
Ketika seseorang dimotivasi untuk mendirikan usaha, Hampir 90% mengatakan tidak punya modal. Pendapat itu tidak sepenuhnya keliru  walau sesungguhnya  modal terkuat dalam berbisnis bukanlah fresh money, tetai justru pada niat dan tekad. Yang kuat . Bisnis tidak pernah mengajarkan siapapun untuk menjual apa yang tidak mampu untuk diperjualbelikan. Bisnis adalah menjual apa yang bisa anda jual dan bukan mengeluh keterbatasan dan hambatan yang membuat anda tidak pernah untuk memulai. Berbisnis tanpa uang tunai bukanlah hal yang mustahil. Profesi makelar hanya memerlukan penguasaan informasi dan bukan fresh money. Demikian halnya dengan menjualkan barang orang lain yang bermodalkan kepercayaan. Jadi, mungkinkah berbisnis tanpa modal fress money ??
4.     Bisnis Apa?.
Mulailah bisnis dengan pertanyaan “Who?” dan bukan “What??”. Hal ini untuk membantu anda menetapkan “siapa” calon konsumen sesungguhnya. Kalau anda sudah menemukan jawabannya, identifikasi kebutuhan mereka, lakukan stratifikasi dan pada akhirnya tetapkan  apa yang seharusnya anda jual. Menjual apa yang dibutuhkan konsumen selalu menjadi kunci keberhasilan. 

G.  Melatih Insting Bisnis
Melatih insting bisnis tidak jauh berbeda dengan belajar bahasa inggris. Ketika anda ingin bisa berbahasa inggris dengan baik, maka apapun yang anda fikirkan,lihat atau dengar, maka pada saat bersamaan anda harus bisa menyebutkannya dalam bahasa inggris. Demikian halnya dalam membangun insting bisnis.  Apapun yang anda lihat, maka putarlah otak anda sehingga menemukan formulasi menjadikan apa yang anda lihat  menjadi lebih bernilai ekonomis.

Sebagai illustrasi teknis melatih insting  bisnis, anda bisa menemukan berbagai jenis bisnis pada diri manusia. Berdirilah didepan cermin, coba temukan bisnis yang telah tercipta yang terinspirasi dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sudah berapa orang yang menjadi karyawan pada perusahaan yang memenuhi kebutuhan dari ujung kaki sampai ujung rambut.  Sekarang tinggal tergantung anda, ujung mana  yang akan anda jadikan bisnis?


H.  Peluang Mahasiswa Membangun Bisnis di Lingkungan Kampus
Menekuni bisnis adalah hak setiap orang dan kapanpun bisa memulainya sepanjang bisnis yang dijalankan tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku di negeri ini. Demikian juga halnya dengan mahasiswa.

Secara obyektif, mahasiswa memiliki potensi luar biasa untuk memulai membangun bisnis atau terbatas hanya pada membangun insting/skill bisnis.  Ada beberapa alasan logis,antara  lain;
a.            Banyaknya waktu sela yang bisa dimanfaatkan untuk aktivitas produktif.
b.           Berada pada lingkungan kampus yang mayoritas konsumtif, sehingga peluangnya senantiasa tebuka dan memliki  potensi keberhasilan tinggi.
c.             Banyaknya event-event di lingkungan kampus  yang mengandung potensi bisnis.

I.  Tujuan Berbisnis Bagi Mahasiswa
Status mahasiswa adalah  lekat dengan aktivitas menuntut ilmu dalam kurun waktu terterntu. Artinya, mayoritas menempatkan kampus sebagai media antara sebelum memasuki lkehidupan sesungguhnya. Dengan kata lain, kampus adalah sarana investasi sumber daya manusia, sehingga lebih siap beradaptasi pada kehidupan nyata di fase berikutnya.  Atas kondisi demikian, ketika mahasiswa menekuni bisnis, perlu melakukan mendefenisikan tujuan berbisnis bagi masa depannya.  Dengan demikian, bisnis yang akan dijalankan tidak kontradiktif terhadap tujuan awal masuk ke dunia kampus.

Sebagai stimulan, dibawah ini didefenisikan 2 (dua) tujuan bisnis yang bisa dipakai oleh mahasiswa  yaitu mencari uang dan mencari pengalaman. Pilihan defenisi ini akan mempengaruhi langkah-langkah dalam perjalanan berikutnya. Untuk lebih menjelaskan pilihan tersebut, dibawah ini diberikan penjelasan sebagai berikut;
a.      Mencari uang
1)     Menyelesaikan masalah jangka pendek/beban hidup minimal yang harus terpenuhi. Biasanya hal ini terjadi pada mahasiswa yang kebetulan punya masalah finansil tetapi punya tekad kuat untuk meneruskan kuliah.
2)      Peluang bermain zig-zag menjadi kecil karena tuntutan keadaan (kebutuhan hidup yang harus tersedia) untuk focus pada usaha tersebut. Walau tidak menutup kemungkinan melakukan zig-zag, khususnya bagi mereka yang berkarakter risk taker (pengambil resiko)
b.      Mencari pengalaman
1)      Merangkai kehidupan jangka panjang lewat mengenyam banyak pengalaman.
2)      “Hasil” tidak menjadi focus utama saat ini, tetapi variasi pengalaman menjadi satu kebutuhan. Dengan demikian, peluang bermain zig-zag lebih terbuka.

J.  Penghujung
Demikian beberapa pemikiran saya tentang kewirausahaan dan peluang berbisnis bagi mahasiswa sambil kuliah , semoga tulisan ini menjadi penyemangat untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahan pada diri kita masing-masing. Dengan demikian, kita tidak hanya mampu melepaskan diri menjadi beban orang lain tetapi juga berpeluang menciptakan kehidupan bagi orang lain. Bukankah itu mulia di mata Sang Pencipta ?, bukankah sorga adalah tujuan akhir hidup anda sesungguhnya ????.
Share this article :

Posting Komentar

.

 
Copyright © 2015. ARSAD CORNER - All Rights Reserved